Jumat, 19 Desember 2025

PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR 2025 “Tangan Kita, Harapan Mereka: Bersama Selamatkan Penjaga Laut”

Pada hari Minggu, 28 September 2025 UKM-KOFAKAHA telah menyelenggarakan kegiatan Seminar dan Workshop Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Auditorium Gajah Sumatera FKH USK, yang diikuti oleh peserta seminar sebanyak 26 orang, peserta workshop 20 orang, serta panitia dari anggota UKM-KOFAKAHA sebanyak 39 orang. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pukul 08.00 – 17.40 WIB, dan dibagi menjadi 2 sesi.

Sesi 1 yakni seminar yang dipandu oleh 3 pemateri yakni Pemateri 1 yaitu Bapak Insyafrizal, SE, M.Si dari Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, yang menyampaikan materi mengenai Regulasi Mamalia Laut Terdampar. Pemateri 2 yaitu Bapak Fadly Pratama Widjaya, S.Pi dari Konservasi Perairan Nasional Pekanbaru yang menyampaikan materi mengenai Materi Penanganan Pertama pada Mamalia Laut Terdampar. Serta Pemateri 3 yaitu drh. Deny Rahmadani, M.Si dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), yang menyampaikan materi mengenai Materi Penanganan Medis pada Mamalia Laut Terdampar. 

Sesi 2 yakni workshop yang dilakukan oleh peserta workshop sebanyak 20 orang dan juga panitia dari anggota UKM-KOFAKAHAsebanyak 39 orang, yang dipandu oleh pemateri drh. Deny Rahmadani, M.Si dan Bapak Fadly Pratama Widjaya, S.Pi. Workshop yang dilaksanakan berupa simulasi penanganan mamalia laut terdampar. 

1. Regulasi Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Penanganan mamalia laut terdampar di Provinsi Aceh dilandasi oleh kebijakan dan regulasi pemerintah daerah yang mengatur pengelolaan wilayah laut dan perlindungan sumber daya hayati. Aceh memiliki wilayah pesisir dan laut yang luas dengan karakteristik strategis, mencakup kawasan konservasi, kawasan pemanfaatan umum, kawasan strategis nasional atau nasional tertentu, alur laut, serta wilayah kelola Panglima Laot.

Dasar hukum utama pengelolaan wilayah pesisir dan laut di Aceh adalah Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2020 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Aceh Tahun 2020–2040. Qanun ini menjadi acuan dalam pengaturan pemanfaatan ruang laut, termasuk perlindungan kawasan konservasi dan jenis biota laut yang dilindungi.

Mamalia laut merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan, sehingga kejadian mamalia laut terdampar menjadi urusan bersama. Penanganan kejadian terdampar penting dilakukan karena dapat memberikan informasi mengenai kondisi laut, melibatkan satwa yang dilindungi, serta bangkai mamalia laut di pantai dapat membahayakan kesehatan manusia.

Dalam implementasinya, penanganan mamalia laut terdampar di Aceh menghadapi berbagai tantangan, antara lain kondisi geografis wilayah pesisir yang luas, keterbatasan sumber daya, serta perlunya koordinasi lintas sektor. Oleh karena itu, pemerintah daerah mendorong aksi kolaborasi bersama masyarakat, akademisi, dan lembaga terkait dalam penanganan mamalia laut terdampar.

Upaya penguatan regulasi pengelolaan laut Aceh terus dilakukan, antara lain melalui revisi kebijakan yang berkaitan dengan kewenangan pengelolaan laut, perlindungan jenis ikan dan biota laut yang dilindungi, serta implementasi rencana aksi pengelolaan perikanan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendukung perlindungan mamalia laut dan keberlanjutan ekosistem laut Aceh.

2. Penyebab dan Ancaman serta Penanganan Pertama pada Kejadian Mamalia Laut Terdampar

Kejadian mamalia laut terdampar merupakan kondisi ketika mamalia laut ditemukan di pantai atau perairan dangkal, baik hidup maupun mati, dalam keadaan tidak berdaya dan tidak mampu kembali ke habitat alaminya dengan usaha sendiri. Kejadian ini dibedakan menjadi terdampar tunggal yang melibatkan satu individu atau induk dan anak, serta terdampar massal yang melibatkan dua individu atau lebih secara bersamaan. Kejadian terdampar penting untuk diperhatikan karena dapat menjadi indikator kondisi laut, melibatkan satwa yang dilindungi, serta berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia dan lingkungan.

Penyebab mamalia laut terdampar bersifat multifaktorial dan melibatkan faktor alami maupun aktivitas manusia, antara lain:

● Terjebak air surut saat mencari makan di perairan dangkal.

● Gangguan kesehatan seperti parasit pada sistem saraf atau tertelannya benda asing.

● Upaya menghindari predator hingga memasuki wilayah dangkal.

● Gangguan sistem navigasi akibat kebisingan yang memengaruhi sonar.

● Aktivitas manusia seperti perikanan tidak ramah lingkungan, transportasi laut, dan pencemaran.

● Faktor alam seperti gempa dasar laut, badai angin, dan badai matahari yang menyebabkan disorientasi.

Kejadian mamalia laut terdampar membawa berbagai ancaman terhadap ekosistem, antara lain penurunan populasi mamalia laut hingga kepunahan, terganggunya rantai makanan, kerusakan habitat laut, serta kontribusi terhadap memburuknya kondisi lingkungan laut. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan mitigasi yang terkoordinasi.

Penanganan awal kejadian mamalia laut terdampar dimulai dari identifikasi laporan, koordinasi dengan pihak terkait, serta penilaian kondisi satwa dan lingkungan sekitar. Proses ini penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat dan aman bagi satwa maupun manusia.

Penanganan mamalia laut terdampar hidup dilakukan melalui beberapa tahapan utama, yaitu:

● Penyampaian informasi dan koordinasi penanganan.

● Identifikasi, dokumentasi, dan pencatatan kondisi satwa.

● Stabilisasi kondisi mamalia laut.

● Pelepasan kembali ke laut (release).

● Pemantauan pascarilis (monitoring).

Pertolongan pertama pada mamalia laut terdampar hidup dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati. Lubang pernapasan harus selalu dijaga tetap terbuka, tubuh satwa dilindungi dari panas, angin, dan pasir, serta dijaga kelembapannya. Pengendalian massa di sekitar lokasi juga sangat penting untuk mengurangi tingkat stres pada satwa. Pada kondisi tertentu dan setelah dinilai layak, mamalia laut dapat dilepas kembali ke laut menggunakan tandu dengan teknik yang aman.

Penanganan mamalia laut terdampar mati memerlukan kewaspadaan tinggi karena bangkai berpotensi membawa bakteri, virus, dan parasit yang berbahaya. Proses penanganan diawali dengan pengamanan lokasi, pendokumentasian, identifikasi jenis dan morfometrik, serta penggunaan alat pelindung diri. Metode penanganan yang digunakan meliputi penenggelaman di laut, pembakaran, atau penguburan, dengan memperhatikan ketentuan teknis agar tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

3. Rescue, Rehabilitation, Release, Monitoring Ex Performing Dolphins in Indonesia

Rehabilitation atau rehabilitasi merupakan proses pemulihan yang bertujuan mengembalikan kemampuan individu secara menyeluruh, meliputi aspek fisik, fisiologis, psikologis, dan lingkungan, agar dapat berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Rehabilitasi fisik berfokus pada pemulihan kekuatan, gerak, dan koordinasi tubuh, rehabilitasi fisiologis bertujuan menormalkan kembali fungsi organ dan sistem tubuh, rehabilitasi psikologis menitikberatkan pada pemulihan kondisi mental dan emosional seperti stres dan motivasi, sedangkan rehabilitasi lingkungan berkaitan dengan penyesuaian atau pengelolaan lingkungan agar mendukung proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup.

Mamalia laut yang sedang di rehabilitasi akan diperiksa kesehatannya secara rutin setiap bulan untuk memantau kondisi kesehatan secara menyeluruh, melalui berbagai pemeriksaan sitologi dan darah. Blowhole cytology dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan saluran pernapasan dengan mendeteksi adanya sel abnormal atau agen infeksi, gastric cytology bertujuan menilai kondisi lambung dan fungsi pencernaan, sedangkan fecal cytology digunakan untuk mengidentifikasi gangguan saluran cerna, parasit, atau infeksi melalui sampel feses. Selain itu, blood cytology yang mencakup pemeriksaan hematologi dan biokimia darah berfungsi untuk menilai status sel darah, fungsi organ, keseimbangan metabolik, serta mendeteksi penyakit sistemik secara dini.

Selain itu dilakukan pengambilan sampel tambahan yang dilakukan untuk mendukung diagnosis penyakit secara lebih spesifik dan akurat. Pemeriksaan kultur jamur (fungus culture) dan kultur bakteri bertujuan mengidentifikasi jenis mikroorganisme penyebab infeksi serta menentukan penanganan yang tepat, sementara identifikasi ektoparasit dilakukan untuk mendeteksi keberadaan parasit yang hidup di permukaan tubuh dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Selain itu, pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan menganalisis jaringan secara mikroskopis guna mengevaluasi perubahan struktur sel dan jaringan, sehingga membantu memastikan diagnosis, menilai tingkat keparahan penyakit, dan memantau respons terhadap terapi. 


                                        



Dokumentasi: Foto Bersama Seminar dan Workshop Penanganan Mamalia Laut Terdampar 2025.


#Divisi Satwa Aquatik Liar (SAL)

#SalamKofa

#Salam Lestari



Rabu, 03 Desember 2025

Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis)

 Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis)

1. ETIOLOGI


Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis) hewan endemik Pulau Madagaskar

yang menjadi primata noktural terbesar di dunia. Pada awalnya, penampilan aye-aye

yang tidak biasa (unik) membuatnya diklasifikasikan sebagai hewan pengerat

dibandingkan hewan primata. Hewan ini memiliki jari yang tipis dan panjang serta

memiliki jari tengah yang lebih panjang untuk mencari dan mengambil larva dari

rongga kayu. Tubuh aye-aye berwarna coklat gelap atau hitam dan memiliki ekor

lebat yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka. Mereka juga memiliki mata yang

besar dan telinga yang sensitif.


2. TAKSONOMI

Klasifikasi ilmiah eye-eye (Daubentonia madagascariensis) menurut The

International Union For Conservation Of Nature Red List Of Threatened Species

Adalah sebagai berikut:

Kindom : Animalia

Phlum : Chorndata

Class : Mammalia

Ordo : Primates

Subordo : Stepsirrhini

Family : Daubentoniidae

Genus : Daubentonia

Species : D. Madagascariensis


3. MORFOLOGI Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)

Aye-aye adalah primata nokturnal terbesar di dunia, dengan berat antara 2,5-

2,8 kg. Rata-rata, aye-aye dewasa memiliki panjang sekitar 38 cm, dan tidak memiliki

dimorfisme seksual, yang berarti jantan dan betina terlihat serupa dan berukuran

hampir sama. Ekornya lebih panjang dari tubuhnya, yaitu 44-53 cm, dan mereka

menggunakannya untuk menyeimbangkan diri saat berlari di sepanjang dahan.

Bulunya panjang, kasar, dan berwarna cokelat tua atau hitam, dengan bulu pelindung

putih yang tersebar. Wajah dan tenggorokannya berwarna abu-abu pucat dan ciri-ciri

wajah meliputi mata kuning-oranye atau cokelat pasir yang dikelilingi tanda gelap,

telinga segitiga besar, moncong pendek, dan hidung merah muda.

Bulu eye-eye memiliki lapisan luar rambut pelindung berujung putih yang

kusut. Rambut pelindung adalah rambut kasar dan lebih panjang yang melindungi

aye-aye dari cedera saat mereka memanjat melalui kanopi. Ketika aye-aye menjadi

terkejut, mereka mengangkat rambut pelindung mereka untuk membuat diri mereka

terlihat lebih besar dan lebih mengintimidasi. Mengangkat rambut ini, atau piloereksi,

adalah mekanisme pertahanan untuk menangkis pesaing atau predator yang mungkin

ingin bergulat dengan mereka.


4. HABITAT Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)

Daubentonia madagascariensis, umumnya dikenal sebagai aye-aye,

merupakan spesies endemik Madagaskar. Aye-aye dapat ditemukan tersebar luas

di seluruh pulau. Daubentonia madagascariensis dapat ditemukan di berbagai

lingkungan, termasuk hutan hujan primer dan sekunder, hutan gugur, perkebunan, dan

terkadang hutan semak kering dan hutan bakau. Mereka menghabiskan sebagian besar

waktunya di dua tingkat tajuk teratas


5. PERILAKU Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Aye-aye bersifat nokturnal dan soliter. Sebagian besar waktu siang hari
dihabiskan untuk tidur di sarang berbentuk oval yang terletak di dua tingkat teratas
tajuk. Individu-individu cenderung tidur sendiri, tetapi terkadang dapat berbagi sarang,
dan sarang dapat ditempati oleh individu yang berbeda pada waktu yang berbeda.
Aktivitas dimulai setengah jam sebelum matahari terbenam dan berlanjut hingga 3
jam setelah matahari terbenam. Jantan biasanya aktif sebelum betina. Pada malam
hari, aye-aye menghabiskan waktu mereka secara bergantian untuk mencari makan,
makan, dan merawat diri. Aye-aye dapat berkumpul dalam kelompok mencari makan
yang terdiri dari 2-3 individu. Aye-aye sering kali bergantung terbalik di dahan dan
dapat beristirahat secara vertikal maupun horizontal.
Aye-aye mampu memanfaatkan beragam metode lokomotor, termasuk
kuadrupedalisme arboreal, melompat, dan turun dengan kepala terlebih dahulu.
Kekuatan lokomosi berpotensi membahayakan jari-jari aye-aye yang panjang dan
ramping, sehingga individu mungkin menekuk jari-jari mereka atau menggeser tubuh
mereka untuk membawa lebih banyak beban di bagian kaudal. Teknik-teknik ini
membantu mencegah kerusakan pada jari-jari mereka yang halus. Jempol kaki yang
kuat dan dapat diposisikan berlawanan arah, korset bahu yang kokoh, dan humerus
yang kuat merupakan fitur-fitur yang membantu memungkinkan turun dengan kepala
terlebih dahulu. Aye-aye mampu menggunakan cabang-cabang yang lebar dan sempit,
serta cabang-cabang vertikal, horizontal, dan miring sebagai penopang dalam
lokomosi.

6. REPRODUKSI Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Selama setiap siklus perkawinan, betina biasanya kawin dengan lebih dari satu
jantan, yang mewakili sistem perkawinan multi-jantan dan multi-betina. Aye-aye
memiliki musim kawin yang panjang. Pengamatan di alam liar menunjukkan periode
lima bulan, dari Oktober hingga Februari, ketika individu-individu sedang kawin, atau
terdapat tanda-tanda estrus yang terlihat pada betina. Siklus estrus betina berkisar
antara 21 hingga 65 hari dan ditandai dengan perubahan pada vulva, yang biasanya
kecil dan berwarna abu-abu, dan menjadi besar dan merah selama siklus ini.
Masa kehamilan berlangsung selama 152 hingga 172 hari, dan bayi biasanya
lahir antara Februari dan September. Terdapat interval 2 hingga 3 tahun antar
kelahiran. Interval antar kelahiran yang panjang ini mungkin disebabkan oleh perkembangan bayi yang relatif lambat dan tingginya tingkat investasi orang tua.
Aye-aye memiliki berat neonatal rata-rata 90 hingga 140 g dan akan tumbuh hingga
sekitar 2615 g untuk jantan dan 2570 g untuk betina. Bayi aye-aye memiliki warna
bulu yang mirip dengan aye-aye dewasa, tetapi penampilan mereka berbeda karena
mata hijau dan telinga yang terkulai. Bayi aye-aye juga memiliki formula gigi sulung:
I:1-2/1-2, C1/1, PM:2/2. Gigi sulung ini akan tanggal pada usia 20 minggu.

7. PERAN EKOLOGIS Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Aye-aye memiliki ceruk (atau tugas) unik dalam ekosistemnya. Mereka
memakan serangga penggerek kayu yang dapat merusak pohon dan, dengan demikian,
membantu mengendalikan populasi hama pohon. Mereka juga memakan buah-buahan
dan kacang-kacangan lainnya, sehingga mereka mudah beradaptasi dengan berbagai
sumber makanan dan habitat. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka memanfaatkan
berbagai jenis hutan dan membantu menyebarkan benih di seluruh hutan. Dengan
demikian, benih-benih ini dapat menemukan lahan terbuka untuk tumbuh tanpa
bersaing dengan tanaman induknya. Kebiasaan makan mereka membantu menjaga
ekosistem hutan yang sehat dan beragam. Fossa, burung hantu, dan ular merupakan
predator potensial aye-aye, menjadikan primata ini sebagai mata rantai penting dalam
jaring makanan Madagaskar.

8. STATUS KONSERVASI dan ANCAMAN Eye-Eye (Daubentonia
madagascariensis)
Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam menggolongkan aye-aye sebagai
spesies yang Terancam Punah (IUCN, 2018), dan muncul dalam Daftar Merah
Spesies Terancam IUCN, dan oleh Convention on International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yaitu apendiks 1. Diperkirakan eye-eye
hanya tersisa antara 1.000 dan 10.000 individu di alam liar.

Ancaman utama mereka adalah perusakan habitat yang disebabkan oleh
manusia. Manusia telah mengubah lanskap alam liar Madagaskar untuk memberi
ruang bagi lahan pertanian dan pembangunan manusia demi memenuhi kebutuhan
ekonomi. Sayangnya, hal ini telah memecah belah hutan dan populasi satwa liar. Aye-
aye mungkin awalnya hidup dalam populasi yang lebih rendah, dan tekanan tambahan
akibat perubahan habitat telah menurunkan populasinya secara drastis.

9. UPAYA KONSERVASI
Aye-aye tercantum dalam Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional
Spesies Terancam Punah (CITES), sebuah perjanjian internasional antarpemerintah
yang bertujuan untuk memastikan bahwa perdagangan internasional spesimen hewan
dan tumbuhan liar tidak mengancam kelangsungan hidup mereka. Hukum nasional
dan Konvensi Afrika melarang perdagangan regional dan ekspor aye-aye beserta
produk sampingannya (kulit atau tulang).Banyak taman nasional dan kawasan lindung
di Madagaskar membantu mengekang degradasi habitat dan memberikan rasa aman
bagi aye-aye. Namun, penegakan hukum lokal yang melarang pembunuhan primata
unik ini sulit dilaksanakan.

Memperkirakan populasi makhluk nokturnal ini cukup menantang, seringkali
dilakukan berdasarkan tanda-tanda makan (lubang di pohon). Akurasi estimasi
populasi jangka panjang semakin rumit karena sifat aye-aye yang sulit dipahami.
Untuk mengatasi hal ini, para ilmuwan menggunakan studi genetik dan teknik
lapangan canggih untuk mendapatkan pemahaman yang lebih akurat tentang populasi
liar dan habitat pilihan mereka, sehingga membantu konservasi spesies ini.
Duke Lemur Center (DLC) di Durham, Carolina Utara, memainkan peran penting
dalam penelitian dan konservasi aye-aye. Sebagai salah satu pusat penangkaran aye-
aye modern pertama, penelitian mereka difokuskan pada upaya reintroduksi lemur
yang terancam punah ini ke alam liar, sehingga berkontribusi signifikan terhadap
kelangsungan hidup spesies ini.

#Divisi Primata
#Salam Lestari

DAFTAR PUSTAKA

Ancrenaz, M., I. Lackamancrenaz, N. Mundy. (2019). Pengamatan lapangan aye-aye.
Jounal Folia Primatologica, 1(3) : 22-36.
AnkelSimons, F. (2020). Gigi sulung aye-aye. American Journal of Primatology,
39(2): 87-97.
Erickson, C. (2018). Lokasi Pencarian Makanan untuk ekstraksi oleh aye-aye.
American Journal of Primatology, 35(3) : 235-240.
Erickson, C., S. Nowiki, L. Dollar, N. Goehring. (2019). Mencari makan prekursif:
stimuli untuk lokasi mangsa oleh aye-ayes. Jurnal Primatologi Internasional,
19(1) : 111-122


Senin, 01 September 2025

PMLT (Penanganan Mamalia Laut Terdampar)

 PMLT (Penanganan Mamalia Laut Terdampar)

A. MAMALIA LAUT

Mamalia laut merupakan sekelompok hewan yang hidup di lingkungan laut, tetapi tetap menunjukkan ciri khas mamalia, seperti menyusui anak dan bernapas menggunakan paru-paru. Mamalia laut terdiri dari tiga kelompok utama yaitu: Cetacea (paus, lumba- lumba, dan pesut), Sirenia (dugong dan manatee), serta Pinnipedia (anjing laut, singa laut, dan walrus).

- Cetacea: Paus dan Lumba-Lumba

Cetacea merupakan salah satu kelompok mamalia laut yang paling dikenal luas. Kelompok ini meliputi hewan seperti paus, lumba-lumba, dan pesut. Ciri khas mereka adalah bentuk tubuh yang ramping dan aerodinamis, yang memungkinkan mereka berenang dengan efisien di perairan. Cetacea terbagi menjadi dua subkelompok utama, yaitu Mysticeti (paus balin) dan Odontoceti (paus bergigi).

- Putri Duyung: Dugong dan Manatee

Sirenia, atau mamalia laut yang bersifat herbivora, mencakup spesies seperti dugong dan manatee. Mereka kerap dijuluki "sapi laut" karena pola makan mereka yang terdiri dari tumbuhan laut dan rumput laut. Tubuh sirenia umumnya besar dan bulat, dilengkapi dengan sirip depan yang pendek serta ekor yang lebar dan datar. Mamalia ini biasanya hidup di perairan dangkal dekat pesisir atau muara sungai, tempat makanan utama mereka mudah ditemukan.

- Pinnipedia: Anjing Laut, Singa Laut, dan Walrus

Pinnipedia merupakan kelompok mamalia laut yang mencakup anjing laut, singa laut, dan walrus. Hewan-hewan ini dikenal sebagai perenang yang sangat mahir dan menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam air. Namun,mereka tetap membutuhkan daratan untuk melakukan aktivitas penting seperti beristirahat, berkembang biak, dan melahirkan anak.


B. PERAN MAMALIA LAUT DALAM EKOSISTEM

Mamalia laut memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas ekosistem laut. Sebagai predator puncak, mereka berkontribusi dalam mengendalikan jumlah populasi mangsanya, seperti ikan dan krustasea. Tanpa kehadiran mereka, keseimbangan ekosistem dapat terganggu, yang bisa memicu lonjakan populasi spesies tertentu atau kelangkaan spesies lainnya.

Mamalia laut juga berperan penting dalam siklus nutrisi di laut. Sebagai contoh, kotoran paus mengandung nutrisi penting seperti nitrogen dan zat besi, yang mendukung pertumbuhan fitoplankton. Fitoplankton sendiri merupakan bagian dasar dari rantai makanan laut dan berfungsi menyerap karbon dioksida dari atmosfer, sehingga keberadaan mamalia laut turut membantu menjaga keseimbangan iklim global.


C. PENGERTIAN PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR

Mamalia laut terdampar merupakan mamalia yang ditemukan di pantai atau perairan dangkal, baik hidup maupun mati, dalam kondisi apapun (termasuk terlilit jaring)yang berada dalam kondisi tidak berdaya maupun tidak mampu kembali ke habitat alaminya dengan usaha sendiri. Mamalia laut yang terdampar di Indonesia menjadi perhatian banyak pihak, khususnya pemerhati lingkungan (Husna dan Kusumawati, 2022). Penanganan Mamalia Laut Terdampar (PMLT) merupakan proses intervensi darurat terhadap mamalia laut seperti paus, lumba-lumba, atau dugong yang terdampar di pesisir atau laut dangkal, baik dalam keadaan hidup maupun mati.

Tujuannya mencakup:

1. Menyelamatkan individu yang masih hidup

2. Identifikasi penyebab keterdamparan

3. Pengumpulan data ilmiah (seperti nekropsi dan sampel biologis)

4. Penanganan bangkai secara aman dan sesuai protokol lingkungan


D. PENYEBAB KEJADIAN TERDAMPAR

Definisi terdampar adalah kondisi di mana mamalia laut tidak mampu kembali ke habitatnya secara mandiri. Misalnya, ketika berada di perairan dangkal atau terdampar di darat. Adapun penyebab kejadian terdampar sangat beragam, mulai dari terjebak di air urut, penyakit, predator seperti cookiecutter shark, kebisingan, aktivitas perikanan, tertabrak kapal, gempa dasar laut, blooming alga, badai matahari, cuaca ekstrem, sampai pencemaran laut.


E. JENIS KETERDAMPARAN

Dalam konteks ilmiah dan lapangan, terdapat beberapa klasifikasi:



F. Langkah-langkah PMLT:

1. Penanganan Mamalia Terdampar Hidup
- Dekati dengan hati-hati, hindari menyentuh mulut maupun ekor.
- Pastikan lubang napas (blowhole) dan sirip punggung tetap terbuka dan terlindungi
dari pasir atau benda asing.
- Lindungi kelembapan tubuh: gunakan siraman air laut lembut, tapi jangan
mengalirkannya ke lubang napas langsung.
- Jaga agar tidak terjadi stres dari kerumunan lakukan pengendalian massa (crowd
control).
2. Penanganan Mamalia Terdampar Mati
- Dokumentasi kondisi awal (lokasi, kondisi tubuh, luka, dan lainnya)
- Evakuasi ke fasilitas (misalnya cold storage) dan tunggu izin atau prosedur
nekropsi dari lembaga seperti KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), DKP
(Dinas Kelautan dan Perikanan), atau otoritas terkait.
- Pilihan pengelolaan bangkai: penguburan, pembakaran, atau penenggelaman sesuai
prosedur dan regulasi lingkungan

G. PENANGANAN BERDASARKAN KODE
Penanganan mamalia laut terdampar terbagi menjadi lima kode:
1. Mamalia laut yang masih hidup dan memerlukan evakuasi
2. Mamalia laut yang mati segar, yang memungkinkan untuk nekropsi
3. Tubuh mamalia mulai membusuk, tetapi masih bisa dikenali dan dilakukan
nekropsi pada sebagian tubuhnya.
4. Kondisi bangkai mamalia yang telah membusuk berat, hanya bisa mendapatkan
dokumentasi dari bagian luar
5. Tubuh mamalia hanya tersisa kerangka.


Jumat, 30 Mei 2025

Coral Watch “Colour is life, Coral is hope”

 Coral Watch

Colour is life, Coral is hope”

          Pada tanggal 26-27 April 2025, UKM-KOFAKAHA melaksanakan kegiatan Coral Watch, dimana pada tahun ini UKM-KOFAKAHA berkerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan USK, dalam rangka memperingati Hari Veteriner Sedunia. Coral Watch ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun dengan dihadiri oleh anggota aktif dan anggota muda UKM-KOFAKAHA. Pada tanggal 26 April 2025, anggota UKM-KOFAKAHA diberikan materi serta pengarahan mengenai terumbu karang, mekanisme pengambilan data dan cara memakai alat snorkeling dengan benar oleh pemateri yakni Anggota Luar Biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA, ananda Dianita Oktariani, S.K.H. yang merupakan diva 21. Lalu pada keesokan harinya, pada tanggal 27 April 2025 UKM-KOFAKAHA melaksanakan praktik langsung pada kegiatan Coral Watch di Pantai Inong Balee yang terletak di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Untuk mencapai lokasi kurang lebih menempuh waktu sekitar 1 jam 15 menit dari Kota Banda Aceh. Perjalanan untuk mencapai pantai Inong Balee melewati jalanan tepi pantai, perbukitan dan perkampungan. Jalan menuju pesisir pantai Inong Balee tergolong terjal dan banyak bebatuan. Setibanya di lokasi, anggota UKM- KOFAKAHA diberikan materi serta pengarahan lanjutan oleh pemateri yakni ananda Putri Zara Prabuni yang merupakan anggota aktif UKM-KOFAKAHA diva 23.

Coral Watch merupakan kegiatan dimana anggota UKM-KOFAKAHA akan mengambil data tentang kesehatan terumbu karang. Terumbu karang merupakan hewan yang tidak memiliki tulang belakang atau polip terbentuk dari endapan calcium carbonate (CaCO3) dan bersimbiosis dengan Zooxanthellae. Zooxanthellae merupakan alga bersel yang hidup didalam terumbu karang yang berfungsi sebagai pemberi nutrisi dan memberikan warna pada terumbu karang. Manfaat terumbu karang yakni menyerap CO2 dan penghasil O2, wisata bawah laut, tempat tinggal ekosistem laut, bahan obat-obatan, dan pencegah gelombang laut. 

        Jenis terumbu karang ada 4 yaitu, boulder, plate, braching dan soft. Boulder berbentuk bulat dan merupakan terumbu karang paling kuat. Plate merupakan terumbu karang memiliki bentuk seperti piring dan tipis atau berlapis-lapis. Braching yakni terumbu karang yang memiliki bentuk bercabang seperti ranting. Dan yang terakhir soft yang merupakan terumbu karang paling rapuh dan lembut.

       Terumbu karang yang sehat, bisa dilihat dari warnanya, semakin pekat warna terumbu karang maka semakin banyak Zooxanthellae yang menandakan terumbu karang itu sehat, sebaliknya semakin cerah atau pudar warna terumbu karang, maka semakin tinggi tingkat stres dari terumbu karang tersebut. Pudarnya warna terumbu karang atau yang disebut dengan coral bleaching merupakan kondisi stres parah yang dapat berujung pada kematian dan terumbukarang kehilangan warna. Hal ini terjadi karena ketika terumbu karang stres, terumbu karang akan mengeluarkan/melepaskan Zooxanthellae yang melekat pada tubuhnya, sehingga terumbu karang akan kehilangan warna dan juga sumber nutrisi utama bagi tubuhnya. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputihan (bleaching) pada terumbu karang:

1. Suhu: Suhu yang naik menyebabkan terumbu karang stress. Suhu minimal untuk terumbu karang bertahan hidup yaitu 18 °C, sedangkan suhu maksimal yakni 36-40 °C, dengan suhu optimal yakni 23-25 °C atau 21-29 °C.

2. Cahaya: Tidak terlalu baik bagi terumbu karang jika terkana matahari langsung.

3. pH: Terumbu Karang dapat hidup pada pH 7,5-8,4 normal

4. Salinitas: Tingkat garam di laut dapat mempengaruhi hidup terumbu karang, dengan kisaran 35-40 PPT (part per thousand).

5. Arus Laut: Jika arus terlalu kuat, terumbu karang akan pecah.

6. Bioeresi: Kerusakan terumbu karang dapat diakibatkan faktor biologis, contohnya seperti ikan kakap tua yang menggrogoti terumbu karang atau bulu babi yang hidup di antara terumbu karang.

            Dalam pemeriksaan terumbu karang, alat yang dibutuhkan yakni pelampung, snorkel, mask, fins, CHC (Coral Health Chart), indikator suhu, indikator warna, pensil, dan penghapus. Terdapat 3 teknik pengambilan data yang dapat dilakukan, yaitu walking yang dilakukan saat air laut sedang surut, dengan cara berjalan menyusuri dasar laut, snorkling yang dilakukan di kedalaman 2-3 meter, dan diving yang dilakukan di kedalaman diatas 5 meter. Sedangkan pengambilan sampel juga dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara random (acak), transect survey (secara garis lurus), dan permanent (rutin). Pada saat pengambilan data pada terumbu karang, data karang diambil dengan mencocokkan indikator warna pada bagian tengah karang dan ambil warna yang paling pekat dan pucat. Terumbu karang yang berada di ujung merupakan terumbu karang yang baru tumbuh sehingga kurang efisien bila diambil data tersebut.






Dokumentasi: Proses pengambilan data terumbu karang

#Divisi Satwa Aquatik Liar (SAL)
#SalamKofa
#Salam Lestari


Rabu, 11 Desember 2024

Penanaman Mangrove

“Akar Kuat, Pantai Hebat”

    Pada hari minggu, 29 September 2024 UKM-KOFAKAHA kembali melakukan aksi menanam mangrove yang merupakan kegiatan rutin tahunan UKM-KOFAKAHA. Aksi ini dilakukan di lahan DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan), Mangrove Park, Lampula. Pada kegiatan penanaman mangrove ini diketuai oleh Asa Azhari yang merupakan Anggota Aktif UKM-KOFAKAHA dari Diva 23. Kegiatan ini dibimbing oleh bapak Fikri Sulaiman mulai dari pemberian materi mengenai mangrove hingga praktik penanaman mangrove. Pada kesempatan kali ini, UKM-KOFAKAHA menanam sekitar 300 bibit mangrove. 

Beberapa jenis mangrove, yaitu:

1. Rizhospora yang memiliki akar tunjang. Rizhospora ini mempunyai 3 jenis yaitu:

  • Mucronata, biasanya dilakukan penanaman pada air yang dalam
  • Stylosa, penanamannya pada air yang genangannya tidak terlalu dalam
  • Apiculata

2. Avicennia sebagai penahan abrasi yang paling bagus. Avicennia terdiri dari 4 jenis, yaitu;

  • Avicennia Marina
  • Avicennia Officinalis
  • Avicennia Alba
  • Avicennia Rumphiana
3. Sylindrica merupakan jenis mangrove yang sedang belajar berbuah. Mangrove jenis ini biasanya berbuah pada umur 9-10 tahun. 
  • Bruquera Sylndrica, memiliki akan berbentuk papan
  • Bruquera Gymnorizha, jarang ditemui. Memiliki sekitar 5 jenis dan terdapat 3 jenis di Indonesia.
  • Cheryog

Penyebab kegagalan pada penanaman mangrove:
  • Pemilihan bibit tidak cukup bagus
  • Tidak sedang musim buah

Manfaat mangrove: 
  1. Mangrove memiliki jenis yang dapat menjadi obat racun dan luka bakar
  2. Mangrove memiliki jenis yang dapat menjadi pengganti nasi
  3. Mangrove memiliki jenis yang dapat menetralisir air laut/filter air
  4. Menahan angin serta abrasi

Monitoring Mangrove:
  1. Nomor
  2. Jenis
  3. Lingkar batang
  4. Tinggi
  5. Warna daun

Makhluk yang sering dijumpai disekitar mangrove:
  1. Aves/burung
  2. Kerang
  3. Kepiting
  4. Ikan
  5. Reptil
  6. Monyet
  7. Amfibi.

Hama yang dapat mengganggu pertumbuhan mangrove:
  1. Ternak 
  2. Tritip
  3. Serangga
  4. Ulat
  5. Manusia
  6. Pasang surut

Dokumentasi Lahan yang Sudah Ditanami Mangrove


Foto Bersama Anggota UKM-KOFAKAHA dengan Pihak Pemangku

#Divisi Satwa Aquatik Liar
#SalamKofa
#SalamLestari


CORAL WATCH

 Coral Watch

“Lestarikan Karang Investasi Masa Depan”


    Pada hari Sabtu malam, 11 Mei 2024 UKM-KOFAKAHA diberikan pengarahan serta pemberian materi mengenai terumbu karang dan mekanisme pengambilan data terumbu karan oleh pemateri yakni anggota luar biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA yaitu abangda Fakhri Alviandi, S. KH yang merupakan diva 21. Lalu pada hari Minggu, 12 Mei 2024 UKM- KOFAKAHA telah melaksanakan kegiatan coral watch di Pantai Inong Balee yang terletak di desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Dimana untuk mencapai Lokasi, kurang lebih menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam dari Banda Aceh. Perjalanan untuk mencapai Pantai Inong Balee melewati jalanan tepi pantai, serta melewati perkampungan dan perbukitan. Jalan menuju lokasi, dari jalan raya hingga mencapai pesisir pantai masih tergolong terjal seperti bebatuan dan tanah liat. Setibanya di lokasi, anggota UKM-KOFAKAHA diberikan materi serta pengarahan lanjutan oleh pemateri yakni anggota luar biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA yaitu abangda Farhan Giffary, S. KH. yang merupakan anggota Diva 21. Kegiatan coral watch ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya yang dihadiri oleh anggota aktif dan anggota muda UKM-KOFAKAHA.

    Coral Watch merupakan kegiatan dimana anggota UKM-KOFAKAHA akan mengambil data tentang Kesehatan terumbu karang. Terumbu karang merupakan hewan yang tidak memiliki tulang belakang (invetebrate) yang masuk ke dalam class antozoa. Terumbu karang terdiri dari individu berukuran kecil yang disebut polip yang terbentuk dari endapan CaCO₃ dan bersimbiosis dengan Zooxanthellae.  Zooxanthellae merupakan alga bersel satu yang hidup di dalam jaringan terumbu karang. Alga (zooplankton) ini sebagai pemberi nutrisi atau warna pada terumbu karang. Manfaat terumbu karang yakni menyerap CO2, Penghasil O2 terbesar di dunia, wisata bawah laut, tempat tinggal ekosistem laut, pencegahan gelombang besar, bahan obat-obatan (antibakteri, antikanker, antivirus), sumber ekonomi, dan lain sebagainya.

    Terumbu karang terdiri dari 4 jenis, yaitu boulder, plate,    braching, dan soft. Blouder merupakan terumbu karang yang paling kuat dan bersifat individu. Plate merupakan terumbu karang yang berbentuk seperti piring berlapis-lapis (foliosa). Braching merupakan terumbu karang yang memiliki bentuk bercabang seperti ranting. Soft merupakan terumbu karang yang paling rapuh. 

    Terumbu karang yang sehat yakni terumbu karang yang berwarna paling gelap. Warna terumbu karang yang tidak dapat diidentifikasi yaitu warna putih karena terumbu karang sudah mengalami kematian (bleaching), serta warna lain seperti biru, merah, dan ungu yang tidak dapat ditentukan kematiannya karena tidak berubah warna.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi keputihan (bleaching) pada terumbu karang:

  1. Suhu: Suhu minimal untuk terumbu karang bertahan hidup yaitu 18 °C, sedangkan suhu maksimal yakni 36-40 °C, dengan suhu optimal yakni 23-25 °C atau 21-29 °C.
  2. Cahaya: Zooxanthellae hidup membutuhkan cahaya.
  3. pH: Terumbu Karang dapat hidup pada pH 7-8,5.
  4. Salinitas: Tingkat garam di laut dapat mempengaruhi hidup terumbu karang, dengan kisaran 35-40 PPT (part per thousand).
  5. Arus Laut: Jika arus terlalu kuat, terumbu karang akan pecah. 
  6. Bioeresi: Kerusakan terumbu karang dapat diakibatkan faktor biologis, contohnya seperti ikan kakap tua yang menggrogoti terumbu karang atau bulu babi yang hidup di antara terumbu karang.  

Dalam pemeriksaan terumbu karang, alat yang dibutuhkan yakni pelampung, snorkel, mask, fins, CHC (Coral Health Chart), indikator suhu, indikator warna, pensil, dan penghapus. Terdapat 3 teknik pengambilan data yang dapat dilakukan, yaitu walking yang dilakukan saat air laut sedang surut, dengan cara berjalan menyusuri dasar laut, snorkling yang dilakukan di kedalaman dibawah 5 meter, dan diving yang dilakukan di kedalaman diatas 5 meter.  Sedangkan pengambilan sampel juga dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara random (acak), transect survey (secara garis lurus), dan permanen (rutin).

Dokumentasi: Proses pengambilan data coral

#DIvisi Satwa Aquatik Liar (SAL)

#SalamKofa

#SalamLEstari

Sabtu, 07 Desember 2024

 

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)


1. ETIOLOGI

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan primata non human yang memiliki keberhasilan adaptasi yang tinggi sehingga tersebar di berbagai tipe habitat. Monyet ekor panjang merupakan jenis primata yang hidup secara berkelompok sehingga tidak terlepas dari interaksi sosial dengan individu lain di dalam kelompoknya. Interaksisosial yang dilakukan monyet ekor panjangmenimbulkan munculnya berbagai aktivitas yang berbeda antar individu dalam satu populasi. Aktivitas sosial yang terjadi pada populasi montyet ekor panjang diantaranya social afiliation, social agonism, dan non-social activities yang termmasuk diantranya adalah bergerak, makan, dan inaktif. 

 Monyet ekor panjang memiliki fungsi ekologis dan dapat digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium (Rakhmadani, 2014). Menurut Seponada dan Firman (2010), beberapa fungsi ekologis yang diperankan oleh monyet ekor panjang yakni, sebagai penyemai dan penyebar biji tanaman buah yang penting bagi konservasi jenis tumbuhan di habitatnya. Monyet ekor panjang juga berperan penting dalam kehidupan di alam terutama proses regenerasi hutan tropik. Meski demikian, saat ini monyet ekor panjang masuk dalam kategori “Least concern” karena paling sedikit diperhatikan (CITES, 2014).


2. TAKSONOMI

Klasifikasi ilmiah hewan monyet ekor panjang menurut The International Union for Conservation of Nature Red List of Threatened Species tahun 2022 adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum      : Chordata

Kelas      : Mammalia

Ordo      : Primata

Familia  : Cercopithecidae

Genus    : Macaca

Spesies  : Macaca fascicularis


3. Morfologi Macaca fascicularis

Macaca ekor panjang, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Macaca fascicularis, adalah salah satu spesies primata yang paling umum ditemukan di Asia Tenggara. Mereka memiliki ciri khas berupa ekor yang lebih panjang dibandingkan dengan tubuhnya, serta wajah yang ekspresif (Pratama et al., 2022).


Macaca fascicularis merupakan macaca terkecil di Indonesia. Ekornya panjang mencapai 36 – 71,5 cm pada individu jantan dan 31,5 – 63,8 cm pada individu betina. pada umumnya ukuran tubuh individu di wilayah pesisir atau dataran rendah lebih besar daripada individu yang hidup diketinggian yang lebih tinggi. Monyet ekor panjang pada umumnya mempunyai warna yang bervariasi dari coklat atau coklat keabu-abuan. Mereka memiliki wajah cokelat kemerahan dan bulu-bulu di atas kepalanya. Monyet jantan dan betina mempunyai beberapa perbedaan di antaranya jantan memiliki kumis pada bagian pipi dan bingkai wajah, sementara betina memiliki janggut serta cambang pipi. Selain menjadi lebih tinggi dan lebih berat, jantan memiliki gigi taring yang lebih besar banyak dari perempuan. Monyet memiliki kantong pipi di mana mereka dapat menyimpan makanan dan mengangkutnya dari tempat makan untuk memakannya menjadi abu-abu atau abu kecoklatan Macaca ekor panjang memiliki ukuran tubuh yang bervariasi, dengan panjang tubuh sekitar 40-60 cm dan berat antara 5-10 kg. Ekornya yang panjang berfungsi untuk menjaga keseimbangan saat bergerak di atas cabang-cabang pohon (Risdiyansyah et al., 2020).


4. HABITAT  Macaca fascicularis

Macaca ekor panjang dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk hutan hujan, hutan mangrove, dan daerah perkotaan. Macaca fascicularis tersebar luas di Asia, mulai dari Banglades, India, Kamboja, Myanmar (Kepulauan Mergui), Filipina (Balabec, Basilan, Cagayan Sulu, Culion, Jolo, Leyte, Luzon, Mindanao, Mindoro, Palawan,Samar), Vietnam, Thailand, Laos, Malaysia (Peninsula, Sabah, Sarawak), Singapura dan Timor Leste. Di Indonesia, spesies ini dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sumba dan Timor. Kehadiran mereka di daerah perkotaan sering kali menyebabkan interaksi dengan manusia, yang dapat berujung pada konflik.



Macaca fascicularis hidup di hutan primer dan sekunder pada dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 1000 m diatas permukaan laut. Di dataran tinggi umumnya ditemukan di hutan sekunder atau daerah perkebunan. Selain itu juga ditemukan di hutan mangrove dan di dekat pemukiman warga.


5. PERILAKU DAN GAYA HIDUP

Macaca ekor panjang adalah hewan sosial yang hidup dalam kelompok yang terdiri dari beberapa individu. Struktur sosial mereka biasanya didominasi oleh betina, dan kelompok ini dapat terdiri dari 20 hingga 30 anggota. Mereka berkomunikasi melalui berbagai suara, gerakan tubuh, dan ekspresi wajah. Gaya hidup macaca ekor panjang yaitu aboreal dan komunal. Struktur sosial mereka bersifat hierarkis, di mana status individu dalam kelompok memengaruhi akses terhadap makanan dan pasangan. Interaksi antarindividu sering melibatkan perawatan sosial, seperti membersihkan bulu satu sama lain, yang memperkuat ikatan kelompok.

Macaca fascicularis hidup di atas pohon, biasanya pohon di dekat sungai untuk beristirahat. Spesies ini berkelompok dengan jumlah yang bervariasi, umumnya berkisar 20 – 30 individu seimbang antara jantan dan betina. Ukuran kelompoknya sesuai dengan keberadaan predator dan makanan di area tersebut. Sering terjadi kompetisi antara pejantan di dalam kelompok, kompetisi dengan kelompok lain biasanya disebabkan oleh makanan. 

Macaca fascicularis merupakan hewan pemakan segala atau omnivora,, Macaca ekor panjang mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk buah-buahan, daun, biji-bijian, dan serangga, jamur, tanaman merambat. Selain itu juga diketahui memakan kepiting, kerang, udang dan crustasea lainnya. Mereka dikenal sebagai pemanjat yang ulung, sehingga dapat mengakses makanan yang tinggi di pohon.


6. AKTIVITAS MAKAN

 Ketika mencari makan, monyet ekor panjang selalu berpindah tempat sesuai dengan ketersediaan makanan yang tersedia. Secara umum, primata ini termasuk herbivora dan memilih buah sebagai makanan utama. Pemilihan buah yang dikonsumsi oleh monyet seringkali didasari pada berat buah, warna, aroma, dan kandungan nutrisinya. Bukan hanya buah, monyet ekor panjang juga memakan serangga, daun, bunga biji, dan umbi sebagai sumber makanan alternatif (Quinda et al., 2023)


Perilaku makan primata memiliki keunikan tersendiri, di mana mereka memiliki kemampuan untuk menggenggam makanan sebelum dimakan dan sistem pencernaan yang berkembang baik, terutama pada bagian sekum yang membantu dalam proses pencernaan. Selain itu, naluri alami primata terhadap makanan yang dibutuhkan juga turut memengaruhi pola makan mereka (Karyawati, 2019).

7. PERILAKU REPRODUKSI

Monyet ekor panjang betina dominan mengalami kematangan seksual ketika berumur empat tahun, dan mulai bereproduksi sebelum usia lima setengah tahun sedangkan yang bukan dominan akan bereproduksi setelah berumur lima setengah tahun. Monyet ekor panjang jantan mengalami kematangan seksual pada umur tujuh tahun. Proses perkawinan monyet ekor panjang dapat terjadi sepanjang tahun (bukan musiman), tetapi tidak dapat dilakukan setiap hari karena siklus estrusnya 28 hari, dengan lama fase estrus 11 hari serta ovulasi terjadi pada hari ke-13. Proses perkawinan hanya dapat terjadi setelah fase estrus berakhir. Normalnya monyet ekor panjang betina dewasa dapat melahirkan setiap dua tahun sekali dengan satu anakan/kelahiran, masa kehamilan 167 hari dan masa laktasi 18 bulan. Lambatnya laju pertumbuahan populasi dan sedikitnya proporsi usia reproduktif menyebabkan rendahnya populasi monyet ekor panjang (Fakhri et al., 2019)

Mereka memiliki perilaku kawin yang kompetitif, dengan pejantan dominan cenderung memiliki kesempatan lebih besar untuk bereproduksi. Betina biasanya melahirkan satu bayi setelah masa kehamilan sekitar enam bulan, dan induk betina sangat melindungi anaknya. Anak monyet ekor panjang tinggal bersama induknya hingga mampu mandiri.Individu jantan Macaca fascicularis mencapai umur kematangan sekitar usia 6 tahun, sedangkan individu betina sekitar usia 4 tahun. Pada saat betina mendekati waktu ovulasi kulit di daerah perineum (antara pangkal ekor dan anus) membengkak, individu betina menyembunyikan waktu ovulasi untuk membujuk individu jantan tinggal lebih lama. Waktu kera betina mengandung diperkirakan sekitar 162 hari, dengan interval antar kelahiran sekitar 390 hari. Kera muda dirawat hingga umur 420 hari, lamanya waktu menyusui dan interval antar kelahiran dipengaruhi oleh peringkat betina. Puncak kelahiran spesies ini antara bulan Mei dan Juli, bersamaan dengan musim hujan.


8. ANCAMAN POPULASI DAN STATUS KONSERVASI

 Meskipun Macaca ekor panjang memiliki populasi yang cukup besar, mereka menghadapi berbagai ancaman, termasuk kehilangan habitat akibat deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal. Upaya konservasi diperlukan untuk melindungi spesies ini dan habitat alaminya (Santoso et al., 2015).

Ancaman terhadap populasi Macaca fascicularis terbesar datang dari manusia. Spesies ini banyak diburu untuk dipelihara dan dimakan, selain itu mereka juga dibunuh karena dianggap sebagai hama pertanian. Di Kamboja dan Vietnam kera betina biasanya dibawa ke tempat pembiakan dan kera jantan diekspor untuk digunakan dalam penelitian. Namun di beberapa negara spesies ini dilindungi karena jumlahnya yang semakin berkurang. Di Bali kera banyak ditemukan di tempat suci, sehingga dianggap sebagai hewan yang sakral ( Zairina et al., 2018).

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), berdasarkan status IUCN memiliki status konservasi (endangered) terancam punah. Spesies ini mengalami perubahan status yang awalnya memiliki status (vulnerable) yaitu status yang menghadapi risiko kepunahan di alam liar dalam waktu yang akan datang berubah menjadi (endangered) yaitu spesies yang menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat (Zaksen et al., 2021).


#Divisi Primata

#Salam Lestari






DAFTAR PUSTAKA

CITES. 2014, Macaca fascicularis (Raffles, 1821): Cam odia, ndia, Indonesia, Lao People’s Democratic Republic, Mauritius, Palau, Philippines, Viet Nam, United.   Nations Environment Programme World Conservation Monitoring Centre, United Kingdom.

Fakhri, K., Priyono, B., Rahayuningsih, M. (2019). Studi awal populasi dan distribusi Macaca fascicularis raffles di cagar alam ulolanang. Unnes J Life Sci, 1(2): 1-6

Karyawati AT. (2019). Tinjauan umum tingkah laku makan pada hewan primata.Jurnal.  Penelitian Sains. 15(1): 44-47.

Pratama, Y., Rizwar, Darmi, D., Lestari, D. F., & Riandini, E. (2022).     Aktivitas.          harian monyet ekor panjang (Macaca fascicularis fascicularis) di kawasan taman wisata alam (twa) pantai panjng kota bengkulu . Konservasi Hayati,                  18(2), 51–58.

        Risdiyansyah, R., Harianto, S. P., & Nurcahyani, N. (2014). Studi Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis) Di Pulau Condong Darat Desa Rangai.                           Kecamatan Ketibung Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Sylva Lestari, 2(1),             41–48.

 Santoso, B., Sumitra M. dan, Rahayuningsih, M. (2021). Studi perilaku monyet ekor.           panjang (Macaca fascicularis Raffles) dan persepsi pengunjung di goa kreo kota semarang pada masa pandemi covid-19. Indonesian Journal Of Conservation, 9(2) : 1-9

Quinda, B., Kanedi, M., Nurcahyani, N., & Panjaitan, R. H. (2023). Studi tumbuhan sumber pakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan youth camp Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung. Jurnal.                                     Ilmiah  Biologi Eksperimen Dan Keanekaragaman Hayati, 1(1), 44 47.

 Zairina, A., Yanuwiadi, B. dan  Indriyani, S. (2018). Pola penyebaran harian dan karakteristik tumbuhan pakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis R.) di hutan rakyat ambender, pamekasan. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari, 6(1) : 1-10.


Zaksen, A., Harianto., Sugeng, P., Fitriani., Rahma, Y., Winarmo., Djoko, G.                        D. (2021), Perilaku harian monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada objek wisata : study kasus di taman hutan kerja bandar lampung, provinsi lampung. Jurnal Hujan Tropis, 9(2) : 9-16.

Senin, 04 November 2024

Divisi Primata “Seminar dan Workshop Orangutan”

Seminar dan Workshop Orang Utan

" Anesthesia, Medical Examination and Rehabilitation Management of Orangutan "



UKM-KOFAKAHA merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang bergerak di bidang konservasi dan medis satwa liar. Organisasi ini memiliki beberapa departemen dan biro, salah satunya Departemen Animal Survey and Rescue, yang membawahi sejumlah divisi, termasuk Divisi Primata. Salah satu program kerja utama Divisi Primata adalah Seminar dan Workshop Orangutan dengan tema Physical Examination, Medical Check-up, and Rehabilitation Management of Orangutan. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar, terutama Orangutan, sekaligus memberikan edukasi dan pelatihan medis kepada mahasiswa FKH dalam penanganan dan perawatan satwa tersebut.

 

Seminar dan workshop ini dilaksanakan pada Minggu, 10 Oktober 2024, pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Portola Arabia Hotel. Acara ini didukung oleh berbagai sponsor, antara lain Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL), Forum Konservasi Leuser (FKL), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Orangutan Haven, dan SOCP, dengan media partner Bazla, FJL, Minat Profesi Satwa Liar Rothschildi, dan Minat Profesi Satwa Liar UWKS.

 

Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama berupa seminar yang membahas tiga topik penting: anestesi pada Orangutan, medical check-up orangutan, dan manajemen rehabilitasi Orangutan. Materi disampaikan oleh para ahli di bidang medis satwa liar, yaitu drh. Ricko Laino Jaya, M.Sc., drh. Citra Kasih Nente, dan drh. Fina Fadiah. Pada sesi ini, peserta mendapatkan pemahaman tentang prosedur anestesi yang aman dan efektif bagi Orangutan, yang dikenal sebagai satwa dengan sensitivitas tinggi terhadap obat-obatan. Selain itu, peserta mempelajari teknik pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk cara mengidentifikasi penyakit umum dan langkah-langkah pencegahannya. Topik mengenai manajemen rehabilitasi juga dibahas, mencakup strategi mempersiapkan Orangutan agar dapat kembali ke habitat alaminya, serta proses adaptasi dan pemantauan kesejahteraan satwa selama masa rehabilitasi.

 

Sesi kedua berupa workshop praktik langsung, di mana peserta dapat menerapkan teori yang telah dipelajari melalui simulasi dan studi kasus. Dalam sesi ini, peserta mempraktikkan teknik anestesi jarak jauh menggunakan tulup serta pemeriksaan medis Orangutan, termasuk simulasi pengambilan sampel dan pemantauan kondisi kesehatan.

 

Acara ini berhasil mencapai beberapa tujuan penting, seperti meningkatkan kesadaran dan kepedulian peserta terhadap konservasi Orangutan, memberikan pengetahuan mendalam mengenai pemeriksaan fisik dan manajemen rehabilitasi, serta mengembangkan keterampilan praktis melalui pelatihan langsung. Selain itu, kegiatan ini memperkuat jaringan kerja sama antara UKM-KOFAKAHA, FKH USK, dan berbagai mitra konservasi, serta membuka peluang kolaborasi di masa mendatang. Dengan antusiasme tinggi dari para peserta, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi mahasiswa yang peduli dan berkompeten dalam bidang konservasi satwa liar, khususnya Orangutan.


Dokumentasi Workshop Orang Utan



#SalamKofa

#Salam Lestari

 

 

 

Minggu, 03 November 2024

Kelas Konservasi “Reptil”

 Kelas Konservasi Reptil 

" Kenali Reptil Untuk Selamatkan Semua "



Divisi Reptil dan Amfibi merupakan salah satu divisi di bawah Departemen Animal Survey dan Rescue, yang bernaung dalam organisasi UKM-KOFAKAHA. Salah satu program kerja utama divisi ini adalah Kelas Konservasi Reptil. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan anggota UKM- KOFAKAHA dalam hal spesies reptil, teknik handling, sexing, pengambilan darah, serta penanganan jika terjadi gigitan atau lilitan ular. Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat solidaritas antara anggota internal UKM-KOFAKAHA, sehingga tercipta kekompakan dan kerukunan dalam menuntut ilmu pengetahuan di bidang konservasi serta pelestarian kehidupan satwa liar.

 

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 Mei 2024, pukul 08.15 WIB hingga selesai, bertempat di Taman Hutan Kota. kegiatan ini berhasil mencapai beberapa hal penting, di antaranya adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan para anggota dalam restrain serta penanganan pertama pada gigitan ular berbisa. Selain itu, anggota UKM-KOFAKAHA kini lebih terampil dalam teknik pengambilan darah pada beberapa jenis reptil dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang teknik sexing yang benar. Kegiatan ini juga mempererat hubungan silaturahmi antara anggota muda, anggota aktif, dan anggota luar biasa di lingkungan UKM-KOFAKAHA.


Dokumentasi Kelas Konservasi Reptil





#SalamKofa

#Salam Lestari


PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR 2025 “Tangan Kita, Harapan Mereka: Bersama Selamatkan Penjaga Laut” Pada hari Minggu, 28 September 2025 UK...