Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis)
1. ETIOLOGI
Aye-Aye (
Daubentonia madagascariensis) hewan endemik Pulau Madagaskar
yang menjadi primata noktural terbesar di dunia. Pada awalnya, penampilan aye-aye
yang tidak biasa (unik) membuatnya diklasifikasikan sebagai hewan pengerat
dibandingkan hewan primata. Hewan ini memiliki jari yang tipis dan panjang serta
memiliki jari tengah yang lebih panjang untuk mencari dan mengambil larva dari
rongga kayu. Tubuh aye-aye berwarna coklat gelap atau hitam dan memiliki ekor
lebat yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka. Mereka juga memiliki mata yang
besar dan telinga yang sensitif.
2. TAKSONOMI
Klasifikasi ilmiah eye-eye (Daubentonia madagascariensis) menurut The
International Union For Conservation Of Nature Red List Of Threatened Species
Adalah sebagai berikut:
Kindom : Animalia
Phlum : Chorndata
Class : Mammalia
Ordo : Primates
Subordo : Stepsirrhini
Family : Daubentoniidae
Genus : Daubentonia
Species : D. Madagascariensis
3. MORFOLOGI Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Aye-aye adalah primata nokturnal terbesar di dunia, dengan berat antara 2,5-
2,8 kg. Rata-rata, aye-aye dewasa memiliki panjang sekitar 38 cm, dan tidak memiliki
dimorfisme seksual, yang berarti jantan dan betina terlihat serupa dan berukuran
hampir sama. Ekornya lebih panjang dari tubuhnya, yaitu 44-53 cm, dan mereka
menggunakannya untuk menyeimbangkan diri saat berlari di sepanjang dahan.
Bulunya panjang, kasar, dan berwarna cokelat tua atau hitam, dengan bulu pelindung
putih yang tersebar. Wajah dan tenggorokannya berwarna abu-abu pucat dan ciri-ciri
wajah meliputi mata kuning-oranye atau cokelat pasir yang dikelilingi tanda gelap,
telinga segitiga besar, moncong pendek, dan hidung merah muda.
Bulu eye-eye memiliki lapisan luar rambut pelindung berujung putih yang
kusut. Rambut pelindung adalah rambut kasar dan lebih panjang yang melindungi
aye-aye dari cedera saat mereka memanjat melalui kanopi. Ketika aye-aye menjadi
terkejut, mereka mengangkat rambut pelindung mereka untuk membuat diri mereka
terlihat lebih besar dan lebih mengintimidasi. Mengangkat rambut ini, atau piloereksi,
adalah mekanisme pertahanan untuk menangkis pesaing atau predator yang mungkin
ingin bergulat dengan mereka.
4. HABITAT Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Daubentonia madagascariensis, umumnya dikenal sebagai aye-aye,
merupakan spesies endemik Madagaskar. Aye-aye dapat ditemukan tersebar luas
di seluruh pulau. Daubentonia madagascariensis dapat ditemukan di berbagai
lingkungan, termasuk hutan hujan primer dan sekunder, hutan gugur, perkebunan, dan
terkadang hutan semak kering dan hutan bakau. Mereka menghabiskan sebagian besar
waktunya di dua tingkat tajuk teratas
5. PERILAKU Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Aye-aye bersifat nokturnal dan soliter. Sebagian besar waktu siang hari
dihabiskan untuk tidur di sarang berbentuk oval yang terletak di dua tingkat teratas
tajuk. Individu-individu cenderung tidur sendiri, tetapi terkadang dapat berbagi sarang,
dan sarang dapat ditempati oleh individu yang berbeda pada waktu yang berbeda.
Aktivitas dimulai setengah jam sebelum matahari terbenam dan berlanjut hingga 3
jam setelah matahari terbenam. Jantan biasanya aktif sebelum betina. Pada malam
hari, aye-aye menghabiskan waktu mereka secara bergantian untuk mencari makan,
makan, dan merawat diri. Aye-aye dapat berkumpul dalam kelompok mencari makan
yang terdiri dari 2-3 individu. Aye-aye sering kali bergantung terbalik di dahan dan
dapat beristirahat secara vertikal maupun horizontal.
Aye-aye mampu memanfaatkan beragam metode lokomotor, termasuk
kuadrupedalisme arboreal, melompat, dan turun dengan kepala terlebih dahulu.
Kekuatan lokomosi berpotensi membahayakan jari-jari aye-aye yang panjang dan
ramping, sehingga individu mungkin menekuk jari-jari mereka atau menggeser tubuh
mereka untuk membawa lebih banyak beban di bagian kaudal. Teknik-teknik ini
membantu mencegah kerusakan pada jari-jari mereka yang halus. Jempol kaki yang
kuat dan dapat diposisikan berlawanan arah, korset bahu yang kokoh, dan humerus
yang kuat merupakan fitur-fitur yang membantu memungkinkan turun dengan kepala
terlebih dahulu. Aye-aye mampu menggunakan cabang-cabang yang lebar dan sempit,
serta cabang-cabang vertikal, horizontal, dan miring sebagai penopang dalam
lokomosi.
6. REPRODUKSI Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Selama setiap siklus perkawinan, betina biasanya kawin dengan lebih dari satu
jantan, yang mewakili sistem perkawinan multi-jantan dan multi-betina. Aye-aye
memiliki musim kawin yang panjang. Pengamatan di alam liar menunjukkan periode
lima bulan, dari Oktober hingga Februari, ketika individu-individu sedang kawin, atau
terdapat tanda-tanda estrus yang terlihat pada betina. Siklus estrus betina berkisar
antara 21 hingga 65 hari dan ditandai dengan perubahan pada vulva, yang biasanya
kecil dan berwarna abu-abu, dan menjadi besar dan merah selama siklus ini.
Masa kehamilan berlangsung selama 152 hingga 172 hari, dan bayi biasanya
lahir antara Februari dan September. Terdapat interval 2 hingga 3 tahun antar
kelahiran. Interval antar kelahiran yang panjang ini mungkin disebabkan oleh perkembangan bayi yang relatif lambat dan tingginya tingkat investasi orang tua.
Aye-aye memiliki berat neonatal rata-rata 90 hingga 140 g dan akan tumbuh hingga
sekitar 2615 g untuk jantan dan 2570 g untuk betina. Bayi aye-aye memiliki warna
bulu yang mirip dengan aye-aye dewasa, tetapi penampilan mereka berbeda karena
mata hijau dan telinga yang terkulai. Bayi aye-aye juga memiliki formula gigi sulung:
I:1-2/1-2, C1/1, PM:2/2. Gigi sulung ini akan tanggal pada usia 20 minggu.
7. PERAN EKOLOGIS Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Aye-aye memiliki ceruk (atau tugas) unik dalam ekosistemnya. Mereka
memakan serangga penggerek kayu yang dapat merusak pohon dan, dengan demikian,
membantu mengendalikan populasi hama pohon. Mereka juga memakan buah-buahan
dan kacang-kacangan lainnya, sehingga mereka mudah beradaptasi dengan berbagai
sumber makanan dan habitat. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka memanfaatkan
berbagai jenis hutan dan membantu menyebarkan benih di seluruh hutan. Dengan
demikian, benih-benih ini dapat menemukan lahan terbuka untuk tumbuh tanpa
bersaing dengan tanaman induknya. Kebiasaan makan mereka membantu menjaga
ekosistem hutan yang sehat dan beragam. Fossa, burung hantu, dan ular merupakan
predator potensial aye-aye, menjadikan primata ini sebagai mata rantai penting dalam
jaring makanan Madagaskar.
8. STATUS KONSERVASI dan ANCAMAN Eye-Eye (Daubentonia
madagascariensis)
Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam menggolongkan aye-aye sebagai
spesies yang Terancam Punah (IUCN, 2018), dan muncul dalam Daftar Merah
Spesies Terancam IUCN, dan oleh Convention on International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yaitu apendiks 1. Diperkirakan eye-eye
hanya tersisa antara 1.000 dan 10.000 individu di alam liar.
Ancaman utama mereka adalah perusakan habitat yang disebabkan oleh
manusia. Manusia telah mengubah lanskap alam liar Madagaskar untuk memberi
ruang bagi lahan pertanian dan pembangunan manusia demi memenuhi kebutuhan
ekonomi. Sayangnya, hal ini telah memecah belah hutan dan populasi satwa liar. Aye-
aye mungkin awalnya hidup dalam populasi yang lebih rendah, dan tekanan tambahan
akibat perubahan habitat telah menurunkan populasinya secara drastis.
9. UPAYA KONSERVASI
Aye-aye tercantum dalam Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional
Spesies Terancam Punah (CITES), sebuah perjanjian internasional antarpemerintah
yang bertujuan untuk memastikan bahwa perdagangan internasional spesimen hewan
dan tumbuhan liar tidak mengancam kelangsungan hidup mereka. Hukum nasional
dan Konvensi Afrika melarang perdagangan regional dan ekspor aye-aye beserta
produk sampingannya (kulit atau tulang).Banyak taman nasional dan kawasan lindung
di Madagaskar membantu mengekang degradasi habitat dan memberikan rasa aman
bagi aye-aye. Namun, penegakan hukum lokal yang melarang pembunuhan primata
unik ini sulit dilaksanakan.
Memperkirakan populasi makhluk nokturnal ini cukup menantang, seringkali
dilakukan berdasarkan tanda-tanda makan (lubang di pohon). Akurasi estimasi
populasi jangka panjang semakin rumit karena sifat aye-aye yang sulit dipahami.
Untuk mengatasi hal ini, para ilmuwan menggunakan studi genetik dan teknik
lapangan canggih untuk mendapatkan pemahaman yang lebih akurat tentang populasi
liar dan habitat pilihan mereka, sehingga membantu konservasi spesies ini.
Duke Lemur Center (DLC) di Durham, Carolina Utara, memainkan peran penting
dalam penelitian dan konservasi aye-aye. Sebagai salah satu pusat penangkaran aye-
aye modern pertama, penelitian mereka difokuskan pada upaya reintroduksi lemur
yang terancam punah ini ke alam liar, sehingga berkontribusi signifikan terhadap
kelangsungan hidup spesies ini.
#Divisi Primata
#Salam Lestari
DAFTAR PUSTAKA
Ancrenaz, M., I. Lackamancrenaz, N. Mundy. (2019). Pengamatan lapangan aye-aye.
Jounal Folia Primatologica, 1(3) : 22-36.
AnkelSimons, F. (2020). Gigi sulung aye-aye. American Journal of Primatology,
39(2): 87-97.
Erickson, C. (2018). Lokasi Pencarian Makanan untuk ekstraksi oleh aye-aye.
American Journal of Primatology, 35(3) : 235-240.
Erickson, C., S. Nowiki, L. Dollar, N. Goehring. (2019). Mencari makan prekursif:
stimuli untuk lokasi mangsa oleh aye-ayes. Jurnal Primatologi Internasional,
19(1) : 111-122
Tidak ada komentar:
Posting Komentar