Jumat, 19 Desember 2025

PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR 2025 “Tangan Kita, Harapan Mereka: Bersama Selamatkan Penjaga Laut”

Pada hari Minggu, 28 September 2025 UKM-KOFAKAHA telah menyelenggarakan kegiatan Seminar dan Workshop Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Auditorium Gajah Sumatera FKH USK, yang diikuti oleh peserta seminar sebanyak 26 orang, peserta workshop 20 orang, serta panitia dari anggota UKM-KOFAKAHA sebanyak 39 orang. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pukul 08.00 – 17.40 WIB, dan dibagi menjadi 2 sesi.

Sesi 1 yakni seminar yang dipandu oleh 3 pemateri yakni Pemateri 1 yaitu Bapak Insyafrizal, SE, M.Si dari Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, yang menyampaikan materi mengenai Regulasi Mamalia Laut Terdampar. Pemateri 2 yaitu Bapak Fadly Pratama Widjaya, S.Pi dari Konservasi Perairan Nasional Pekanbaru yang menyampaikan materi mengenai Materi Penanganan Pertama pada Mamalia Laut Terdampar. Serta Pemateri 3 yaitu drh. Deny Rahmadani, M.Si dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), yang menyampaikan materi mengenai Materi Penanganan Medis pada Mamalia Laut Terdampar. 

Sesi 2 yakni workshop yang dilakukan oleh peserta workshop sebanyak 20 orang dan juga panitia dari anggota UKM-KOFAKAHAsebanyak 39 orang, yang dipandu oleh pemateri drh. Deny Rahmadani, M.Si dan Bapak Fadly Pratama Widjaya, S.Pi. Workshop yang dilaksanakan berupa simulasi penanganan mamalia laut terdampar. 

1. Regulasi Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Penanganan mamalia laut terdampar di Provinsi Aceh dilandasi oleh kebijakan dan regulasi pemerintah daerah yang mengatur pengelolaan wilayah laut dan perlindungan sumber daya hayati. Aceh memiliki wilayah pesisir dan laut yang luas dengan karakteristik strategis, mencakup kawasan konservasi, kawasan pemanfaatan umum, kawasan strategis nasional atau nasional tertentu, alur laut, serta wilayah kelola Panglima Laot.

Dasar hukum utama pengelolaan wilayah pesisir dan laut di Aceh adalah Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2020 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Aceh Tahun 2020–2040. Qanun ini menjadi acuan dalam pengaturan pemanfaatan ruang laut, termasuk perlindungan kawasan konservasi dan jenis biota laut yang dilindungi.

Mamalia laut merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan, sehingga kejadian mamalia laut terdampar menjadi urusan bersama. Penanganan kejadian terdampar penting dilakukan karena dapat memberikan informasi mengenai kondisi laut, melibatkan satwa yang dilindungi, serta bangkai mamalia laut di pantai dapat membahayakan kesehatan manusia.

Dalam implementasinya, penanganan mamalia laut terdampar di Aceh menghadapi berbagai tantangan, antara lain kondisi geografis wilayah pesisir yang luas, keterbatasan sumber daya, serta perlunya koordinasi lintas sektor. Oleh karena itu, pemerintah daerah mendorong aksi kolaborasi bersama masyarakat, akademisi, dan lembaga terkait dalam penanganan mamalia laut terdampar.

Upaya penguatan regulasi pengelolaan laut Aceh terus dilakukan, antara lain melalui revisi kebijakan yang berkaitan dengan kewenangan pengelolaan laut, perlindungan jenis ikan dan biota laut yang dilindungi, serta implementasi rencana aksi pengelolaan perikanan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendukung perlindungan mamalia laut dan keberlanjutan ekosistem laut Aceh.

2. Penyebab dan Ancaman serta Penanganan Pertama pada Kejadian Mamalia Laut Terdampar

Kejadian mamalia laut terdampar merupakan kondisi ketika mamalia laut ditemukan di pantai atau perairan dangkal, baik hidup maupun mati, dalam keadaan tidak berdaya dan tidak mampu kembali ke habitat alaminya dengan usaha sendiri. Kejadian ini dibedakan menjadi terdampar tunggal yang melibatkan satu individu atau induk dan anak, serta terdampar massal yang melibatkan dua individu atau lebih secara bersamaan. Kejadian terdampar penting untuk diperhatikan karena dapat menjadi indikator kondisi laut, melibatkan satwa yang dilindungi, serta berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia dan lingkungan.

Penyebab mamalia laut terdampar bersifat multifaktorial dan melibatkan faktor alami maupun aktivitas manusia, antara lain:

● Terjebak air surut saat mencari makan di perairan dangkal.

● Gangguan kesehatan seperti parasit pada sistem saraf atau tertelannya benda asing.

● Upaya menghindari predator hingga memasuki wilayah dangkal.

● Gangguan sistem navigasi akibat kebisingan yang memengaruhi sonar.

● Aktivitas manusia seperti perikanan tidak ramah lingkungan, transportasi laut, dan pencemaran.

● Faktor alam seperti gempa dasar laut, badai angin, dan badai matahari yang menyebabkan disorientasi.

Kejadian mamalia laut terdampar membawa berbagai ancaman terhadap ekosistem, antara lain penurunan populasi mamalia laut hingga kepunahan, terganggunya rantai makanan, kerusakan habitat laut, serta kontribusi terhadap memburuknya kondisi lingkungan laut. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan mitigasi yang terkoordinasi.

Penanganan awal kejadian mamalia laut terdampar dimulai dari identifikasi laporan, koordinasi dengan pihak terkait, serta penilaian kondisi satwa dan lingkungan sekitar. Proses ini penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat dan aman bagi satwa maupun manusia.

Penanganan mamalia laut terdampar hidup dilakukan melalui beberapa tahapan utama, yaitu:

● Penyampaian informasi dan koordinasi penanganan.

● Identifikasi, dokumentasi, dan pencatatan kondisi satwa.

● Stabilisasi kondisi mamalia laut.

● Pelepasan kembali ke laut (release).

● Pemantauan pascarilis (monitoring).

Pertolongan pertama pada mamalia laut terdampar hidup dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati. Lubang pernapasan harus selalu dijaga tetap terbuka, tubuh satwa dilindungi dari panas, angin, dan pasir, serta dijaga kelembapannya. Pengendalian massa di sekitar lokasi juga sangat penting untuk mengurangi tingkat stres pada satwa. Pada kondisi tertentu dan setelah dinilai layak, mamalia laut dapat dilepas kembali ke laut menggunakan tandu dengan teknik yang aman.

Penanganan mamalia laut terdampar mati memerlukan kewaspadaan tinggi karena bangkai berpotensi membawa bakteri, virus, dan parasit yang berbahaya. Proses penanganan diawali dengan pengamanan lokasi, pendokumentasian, identifikasi jenis dan morfometrik, serta penggunaan alat pelindung diri. Metode penanganan yang digunakan meliputi penenggelaman di laut, pembakaran, atau penguburan, dengan memperhatikan ketentuan teknis agar tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

3. Rescue, Rehabilitation, Release, Monitoring Ex Performing Dolphins in Indonesia

Rehabilitation atau rehabilitasi merupakan proses pemulihan yang bertujuan mengembalikan kemampuan individu secara menyeluruh, meliputi aspek fisik, fisiologis, psikologis, dan lingkungan, agar dapat berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Rehabilitasi fisik berfokus pada pemulihan kekuatan, gerak, dan koordinasi tubuh, rehabilitasi fisiologis bertujuan menormalkan kembali fungsi organ dan sistem tubuh, rehabilitasi psikologis menitikberatkan pada pemulihan kondisi mental dan emosional seperti stres dan motivasi, sedangkan rehabilitasi lingkungan berkaitan dengan penyesuaian atau pengelolaan lingkungan agar mendukung proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup.

Mamalia laut yang sedang di rehabilitasi akan diperiksa kesehatannya secara rutin setiap bulan untuk memantau kondisi kesehatan secara menyeluruh, melalui berbagai pemeriksaan sitologi dan darah. Blowhole cytology dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan saluran pernapasan dengan mendeteksi adanya sel abnormal atau agen infeksi, gastric cytology bertujuan menilai kondisi lambung dan fungsi pencernaan, sedangkan fecal cytology digunakan untuk mengidentifikasi gangguan saluran cerna, parasit, atau infeksi melalui sampel feses. Selain itu, blood cytology yang mencakup pemeriksaan hematologi dan biokimia darah berfungsi untuk menilai status sel darah, fungsi organ, keseimbangan metabolik, serta mendeteksi penyakit sistemik secara dini.

Selain itu dilakukan pengambilan sampel tambahan yang dilakukan untuk mendukung diagnosis penyakit secara lebih spesifik dan akurat. Pemeriksaan kultur jamur (fungus culture) dan kultur bakteri bertujuan mengidentifikasi jenis mikroorganisme penyebab infeksi serta menentukan penanganan yang tepat, sementara identifikasi ektoparasit dilakukan untuk mendeteksi keberadaan parasit yang hidup di permukaan tubuh dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Selain itu, pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan menganalisis jaringan secara mikroskopis guna mengevaluasi perubahan struktur sel dan jaringan, sehingga membantu memastikan diagnosis, menilai tingkat keparahan penyakit, dan memantau respons terhadap terapi. 


                                        



Dokumentasi: Foto Bersama Seminar dan Workshop Penanganan Mamalia Laut Terdampar 2025.


#Divisi Satwa Aquatik Liar (SAL)

#SalamKofa

#Salam Lestari



Rabu, 03 Desember 2025

Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis)

 Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis)

1. ETIOLOGI


Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis) hewan endemik Pulau Madagaskar

yang menjadi primata noktural terbesar di dunia. Pada awalnya, penampilan aye-aye

yang tidak biasa (unik) membuatnya diklasifikasikan sebagai hewan pengerat

dibandingkan hewan primata. Hewan ini memiliki jari yang tipis dan panjang serta

memiliki jari tengah yang lebih panjang untuk mencari dan mengambil larva dari

rongga kayu. Tubuh aye-aye berwarna coklat gelap atau hitam dan memiliki ekor

lebat yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka. Mereka juga memiliki mata yang

besar dan telinga yang sensitif.


2. TAKSONOMI

Klasifikasi ilmiah eye-eye (Daubentonia madagascariensis) menurut The

International Union For Conservation Of Nature Red List Of Threatened Species

Adalah sebagai berikut:

Kindom : Animalia

Phlum : Chorndata

Class : Mammalia

Ordo : Primates

Subordo : Stepsirrhini

Family : Daubentoniidae

Genus : Daubentonia

Species : D. Madagascariensis


3. MORFOLOGI Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)

Aye-aye adalah primata nokturnal terbesar di dunia, dengan berat antara 2,5-

2,8 kg. Rata-rata, aye-aye dewasa memiliki panjang sekitar 38 cm, dan tidak memiliki

dimorfisme seksual, yang berarti jantan dan betina terlihat serupa dan berukuran

hampir sama. Ekornya lebih panjang dari tubuhnya, yaitu 44-53 cm, dan mereka

menggunakannya untuk menyeimbangkan diri saat berlari di sepanjang dahan.

Bulunya panjang, kasar, dan berwarna cokelat tua atau hitam, dengan bulu pelindung

putih yang tersebar. Wajah dan tenggorokannya berwarna abu-abu pucat dan ciri-ciri

wajah meliputi mata kuning-oranye atau cokelat pasir yang dikelilingi tanda gelap,

telinga segitiga besar, moncong pendek, dan hidung merah muda.

Bulu eye-eye memiliki lapisan luar rambut pelindung berujung putih yang

kusut. Rambut pelindung adalah rambut kasar dan lebih panjang yang melindungi

aye-aye dari cedera saat mereka memanjat melalui kanopi. Ketika aye-aye menjadi

terkejut, mereka mengangkat rambut pelindung mereka untuk membuat diri mereka

terlihat lebih besar dan lebih mengintimidasi. Mengangkat rambut ini, atau piloereksi,

adalah mekanisme pertahanan untuk menangkis pesaing atau predator yang mungkin

ingin bergulat dengan mereka.


4. HABITAT Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)

Daubentonia madagascariensis, umumnya dikenal sebagai aye-aye,

merupakan spesies endemik Madagaskar. Aye-aye dapat ditemukan tersebar luas

di seluruh pulau. Daubentonia madagascariensis dapat ditemukan di berbagai

lingkungan, termasuk hutan hujan primer dan sekunder, hutan gugur, perkebunan, dan

terkadang hutan semak kering dan hutan bakau. Mereka menghabiskan sebagian besar

waktunya di dua tingkat tajuk teratas


5. PERILAKU Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Aye-aye bersifat nokturnal dan soliter. Sebagian besar waktu siang hari
dihabiskan untuk tidur di sarang berbentuk oval yang terletak di dua tingkat teratas
tajuk. Individu-individu cenderung tidur sendiri, tetapi terkadang dapat berbagi sarang,
dan sarang dapat ditempati oleh individu yang berbeda pada waktu yang berbeda.
Aktivitas dimulai setengah jam sebelum matahari terbenam dan berlanjut hingga 3
jam setelah matahari terbenam. Jantan biasanya aktif sebelum betina. Pada malam
hari, aye-aye menghabiskan waktu mereka secara bergantian untuk mencari makan,
makan, dan merawat diri. Aye-aye dapat berkumpul dalam kelompok mencari makan
yang terdiri dari 2-3 individu. Aye-aye sering kali bergantung terbalik di dahan dan
dapat beristirahat secara vertikal maupun horizontal.
Aye-aye mampu memanfaatkan beragam metode lokomotor, termasuk
kuadrupedalisme arboreal, melompat, dan turun dengan kepala terlebih dahulu.
Kekuatan lokomosi berpotensi membahayakan jari-jari aye-aye yang panjang dan
ramping, sehingga individu mungkin menekuk jari-jari mereka atau menggeser tubuh
mereka untuk membawa lebih banyak beban di bagian kaudal. Teknik-teknik ini
membantu mencegah kerusakan pada jari-jari mereka yang halus. Jempol kaki yang
kuat dan dapat diposisikan berlawanan arah, korset bahu yang kokoh, dan humerus
yang kuat merupakan fitur-fitur yang membantu memungkinkan turun dengan kepala
terlebih dahulu. Aye-aye mampu menggunakan cabang-cabang yang lebar dan sempit,
serta cabang-cabang vertikal, horizontal, dan miring sebagai penopang dalam
lokomosi.

6. REPRODUKSI Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Selama setiap siklus perkawinan, betina biasanya kawin dengan lebih dari satu
jantan, yang mewakili sistem perkawinan multi-jantan dan multi-betina. Aye-aye
memiliki musim kawin yang panjang. Pengamatan di alam liar menunjukkan periode
lima bulan, dari Oktober hingga Februari, ketika individu-individu sedang kawin, atau
terdapat tanda-tanda estrus yang terlihat pada betina. Siklus estrus betina berkisar
antara 21 hingga 65 hari dan ditandai dengan perubahan pada vulva, yang biasanya
kecil dan berwarna abu-abu, dan menjadi besar dan merah selama siklus ini.
Masa kehamilan berlangsung selama 152 hingga 172 hari, dan bayi biasanya
lahir antara Februari dan September. Terdapat interval 2 hingga 3 tahun antar
kelahiran. Interval antar kelahiran yang panjang ini mungkin disebabkan oleh perkembangan bayi yang relatif lambat dan tingginya tingkat investasi orang tua.
Aye-aye memiliki berat neonatal rata-rata 90 hingga 140 g dan akan tumbuh hingga
sekitar 2615 g untuk jantan dan 2570 g untuk betina. Bayi aye-aye memiliki warna
bulu yang mirip dengan aye-aye dewasa, tetapi penampilan mereka berbeda karena
mata hijau dan telinga yang terkulai. Bayi aye-aye juga memiliki formula gigi sulung:
I:1-2/1-2, C1/1, PM:2/2. Gigi sulung ini akan tanggal pada usia 20 minggu.

7. PERAN EKOLOGIS Eye-Eye (Daubentonia madagascariensis)
Aye-aye memiliki ceruk (atau tugas) unik dalam ekosistemnya. Mereka
memakan serangga penggerek kayu yang dapat merusak pohon dan, dengan demikian,
membantu mengendalikan populasi hama pohon. Mereka juga memakan buah-buahan
dan kacang-kacangan lainnya, sehingga mereka mudah beradaptasi dengan berbagai
sumber makanan dan habitat. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka memanfaatkan
berbagai jenis hutan dan membantu menyebarkan benih di seluruh hutan. Dengan
demikian, benih-benih ini dapat menemukan lahan terbuka untuk tumbuh tanpa
bersaing dengan tanaman induknya. Kebiasaan makan mereka membantu menjaga
ekosistem hutan yang sehat dan beragam. Fossa, burung hantu, dan ular merupakan
predator potensial aye-aye, menjadikan primata ini sebagai mata rantai penting dalam
jaring makanan Madagaskar.

8. STATUS KONSERVASI dan ANCAMAN Eye-Eye (Daubentonia
madagascariensis)
Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam menggolongkan aye-aye sebagai
spesies yang Terancam Punah (IUCN, 2018), dan muncul dalam Daftar Merah
Spesies Terancam IUCN, dan oleh Convention on International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yaitu apendiks 1. Diperkirakan eye-eye
hanya tersisa antara 1.000 dan 10.000 individu di alam liar.

Ancaman utama mereka adalah perusakan habitat yang disebabkan oleh
manusia. Manusia telah mengubah lanskap alam liar Madagaskar untuk memberi
ruang bagi lahan pertanian dan pembangunan manusia demi memenuhi kebutuhan
ekonomi. Sayangnya, hal ini telah memecah belah hutan dan populasi satwa liar. Aye-
aye mungkin awalnya hidup dalam populasi yang lebih rendah, dan tekanan tambahan
akibat perubahan habitat telah menurunkan populasinya secara drastis.

9. UPAYA KONSERVASI
Aye-aye tercantum dalam Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional
Spesies Terancam Punah (CITES), sebuah perjanjian internasional antarpemerintah
yang bertujuan untuk memastikan bahwa perdagangan internasional spesimen hewan
dan tumbuhan liar tidak mengancam kelangsungan hidup mereka. Hukum nasional
dan Konvensi Afrika melarang perdagangan regional dan ekspor aye-aye beserta
produk sampingannya (kulit atau tulang).Banyak taman nasional dan kawasan lindung
di Madagaskar membantu mengekang degradasi habitat dan memberikan rasa aman
bagi aye-aye. Namun, penegakan hukum lokal yang melarang pembunuhan primata
unik ini sulit dilaksanakan.

Memperkirakan populasi makhluk nokturnal ini cukup menantang, seringkali
dilakukan berdasarkan tanda-tanda makan (lubang di pohon). Akurasi estimasi
populasi jangka panjang semakin rumit karena sifat aye-aye yang sulit dipahami.
Untuk mengatasi hal ini, para ilmuwan menggunakan studi genetik dan teknik
lapangan canggih untuk mendapatkan pemahaman yang lebih akurat tentang populasi
liar dan habitat pilihan mereka, sehingga membantu konservasi spesies ini.
Duke Lemur Center (DLC) di Durham, Carolina Utara, memainkan peran penting
dalam penelitian dan konservasi aye-aye. Sebagai salah satu pusat penangkaran aye-
aye modern pertama, penelitian mereka difokuskan pada upaya reintroduksi lemur
yang terancam punah ini ke alam liar, sehingga berkontribusi signifikan terhadap
kelangsungan hidup spesies ini.

#Divisi Primata
#Salam Lestari

DAFTAR PUSTAKA

Ancrenaz, M., I. Lackamancrenaz, N. Mundy. (2019). Pengamatan lapangan aye-aye.
Jounal Folia Primatologica, 1(3) : 22-36.
AnkelSimons, F. (2020). Gigi sulung aye-aye. American Journal of Primatology,
39(2): 87-97.
Erickson, C. (2018). Lokasi Pencarian Makanan untuk ekstraksi oleh aye-aye.
American Journal of Primatology, 35(3) : 235-240.
Erickson, C., S. Nowiki, L. Dollar, N. Goehring. (2019). Mencari makan prekursif:
stimuli untuk lokasi mangsa oleh aye-ayes. Jurnal Primatologi Internasional,
19(1) : 111-122


PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR 2025 “Tangan Kita, Harapan Mereka: Bersama Selamatkan Penjaga Laut” Pada hari Minggu, 28 September 2025 UK...