“Lestarikan Dugong, Mamalia Laut yang Terlupakan”
Pada tanggal 2 April 2023, UKM-KOFAKAHA mengadakan kegiatan Kelas Konservasi dugong yang dimana ini merupakan pertama kalinya UKM-KOFAKAHA melakukan kegiatan ini. Kegiatan kali ini diisi oleh Bapak Juraij Bawazier, S.Si, M,Si yang merupakan seorang peneliti dugong dari Yayasan Lamun Indonesia (YLI). Kegiatan ini berbentuk internal yang dimana difokuskan untuk menambah wawasan anggota UKM-KOFAKAHA. Dugong sendiri merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia, dan merupakan satu-satunya satwa ordo Sirenia yang area tempat tinggalnya tidak terbatas pada perairan pesisir. Dugong juga termasuk ordo sirenia yang masih bisa bertahan setelah manatee. Menurut data yang dikeluarkan oleh IUCN dugong masuk dalam kategori terancam. Sedangkan CITES mengkategorikan dugong kedalam Appendix 1.
Sirenia memiliki kelenjar mamae yang mencirikan sebagai kelompok mamalia. Termasuk mamalia herbivora, dan dugong merupakan herbivora sejati.
Adapun perbedaan dugong dengan manatee adalah dugong hidup di air asin, memiliki kulit yang halus, sekornya seperti bercabang seperti ikan dan biasanya ukurannya lebih kecil. Sedangkan manatee biasanya hidup di sungai, kulitnya memiliki tekstur seperti bekas cakaran, ekornya membulat dan biasanya ukurannya lebih besar.
Dugong masih 1 keluarga dengan gajah karena memiliki moncong yang kebawah. Dugong dulunya memiliki kaki namun karena hidup didalam laut jadinya kakinya mengalami perubahan dan sirip depannya tidak sama seperti sirip melainkan seperti tangan. Pada ekor dugong hanya berisi syaraf dan tulang rawan. Adapun persebaran dugong meliputi indonesia, Australia dan India.
Dugong memiliki bobot sekitar 400kg dan dia merupakan herbivora sejati. Mampu menahan nafas selama 8 menit didalam air. Dugong akan mengambil nafas ke permukaan selama 1-2 detik dan kembali lagi ke dalam air. Hewan ini bernafas menggunakan paru-paru dan tidak memiliki insang.
Adapun morfologi dari dugong sendiri adalah:
- Warnanya coklat keabuan
- Katup mulut akan tertutup saat didalam air
- Telinga tidak bercuping
- Tangan dugong memiliki 5 jari
2 sirip ditangan memiliki selaput untuk mengatur arah renang sedangkan sirip belakang untuk mengatur gerakan renang. Dugong memiliki puting, susunya akan keluar seperti pasta yang terletak di bawah ketiak atau celah sirip depan biasanya anak dugong akan menyusu menempel pada celah sirip tersebut. Dugong hidup dipadang lamun dekat terumbu karang.
Aktivitas harian dugong 41% makan, 32% traveling, 1% istirahat. 6% sosialisasi, 1% Rolling dan 18% naik kepermukaan. Dugong merupakan hewan yang suka bepetualang dan biasanya akan kembali ketempat asalnya. Hanya saja petualngan dugong hanya mencakup wilayah lokal.
Biasanya yang mempengaruhi dugong untuk melakukan perjalan ini adalah faktor makanan atau keamanan dari wilayah yang ditempati. Dugong tidak suka berenang didaerah pasang surut dia lebih suka beraktivitas disekitar terumbu karang. Dugong akan beristirahat dipermukaan kolam dan dasar perairan dan terkadang bisa tertidur juga.
Kebiasaan dugong ketika mencari makan adalah akan memakan lamun yang bagian atasnya saja dan biasanya padang lamun yang sudah dimakan oleh dugong akan meninggalkan jejak yang disebut feeding reel. Dugong juga bisa dijadikan sebagai bio indikator untuk kesehatan padang lamun, karena dugong hanya akan memakan lamun yang kondisinya baik saja. Untuk menjaga homeostasis tubuhnya dugong akan menjaga tubuhnya agar tetap dalam keadaan basah.
Salah satu petunjuk untuk membedakan jenis kelaminnya adalah posisi celah kelaminnya terhadap anus dan pusar sedangkan betina, celah kelaminnya terletak lebih dekat ke anus. Dugong akan siap bereproduksi ketika berusia 9-10 tahun dengan usia kandungan selama 12 – 14 bulan dan pada umumnya hanya melahirkan seekor anak dalam satu kali proses reproduksi. Seekor duyung umumnya memiliki jarak kehamilan selama 2,5 – 7 tahun. Guna menghindari pemangsa dugong akan melahirkan anaknya diperairan dangkal dengan kedalaman 2-2,5 meter. Induk dugong akan menyusi anaknya selama 14-18 bulan dan disapih pada umur 7 tahun. Betina umur 9 tahun sudah bisa dikawini dan jantan berusia 10 tahun.
Perilaku kawin dugong dimana dia akan kawin ketika menemuka pasangan yang pas saja. Sebelum kawin jantan akan mendorong muncungnya keperut sibetina lalu dugong akan kejar - kejaran dan berputar putar. Setelah kawin dugong jantan akan pergi dan tidak kembali.
Ancaman yang membahayakan hidup dugong antara lain terdampar, perburuan, terjerat jaring dan terkena kapal. Penyakit juga termasuk salah satu ancaman dugong. Penyakit yang biasa di derita oleh dugong adalah parasit cacing pipih dan opisthrotema.
Untuk itu mari kita bersama-sama untuk terus menjaga dan ikut serta dalam pelestarian satwa tersebut. Agar keseimbangan ekosistem tetap terus terjaga untuk bumi yang lebih baik
#Divisi Satwa Aquatik Liar (SAL)
#Salam Lestari




Tidak ada komentar:
Posting Komentar