Jumat, 07 Juli 2023

CORAL WATCH

“Selami untuk Selamatkan”

Foto Bersama Anggota UKM-KOFAKAHA

Indikator coral

    Pada hari minggu, 5 Maret 2022 UKM-KOFAKAHA telah melaksanakan kegiatan coral watch di pantai Inong Balee yang terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Dimana untuk mencapai lokasi, kurang lebih menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam dari Banda Aceh. Saat di perjalanan melewati perkampungan dan juga perbukitan. Jalan menuju lokasi, masih tergolong terjal seperti bebatuan dan tanah liat. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya yang dihadiri oleh Anggota Aktif dan Anggota Muda UKM-KOFAKAHA. Pemateri dari acara ini merupakan Anggota Luar Biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA yaitu Abangnda Hifzil Rahmatillah, S.KH. yang merupakan anggota DIVA 19.

    Coral watch sendiri merupakan kegiatan dimana kita mengambil data tentang kesehatan terumbu karang. Terumbu karang merupakan hewan invertebrate yang masuk kedalam class antozoa. Terumbu karang hidup bersimbiosis dengan alga zoocantela. Alga ini akan menghasilkan suatu zat yang akan menjadi makanan bagi terumbu karang. Waktu hidup dari terumbu karang sendiri tergantung lingkungan tempat dia tinggal. Untuk menjadi 1 koloni terumbu karang memerlukan waktu yang lama bahkan bisa mencapai puluhan tahun. Dalam pemeriksaan terumbu karang, dibutuhkan CHC (coral health chart), termometer, GPS dan alat tulis yang tahan air. Yang harus diperhatikan dalam pengecekan terumbu karang.

  • Warna Terumbu Karang
Warna yang sesuai dengan CHC (coral health chart), warna ungu, merah, biru tidak diamati karena bukan merupakan terumbu karang.

  • Tipe Terumbu Karang

Ada 4 tipe terumbu karang yang pertama plate (piring), boulder (batu), soft (lunak) dan braching (cabang). Untuk tipe plate dan soft biasanya ditemukan di perairan yang agak dalam sedangkan boulder dan braching di perairan dangkal.

  • Metode Pemeriksaan Atau Pengambilan Sampel Terumbu Karang

Ada 3 metode yang biasa digunakan yang pertama reef walking ini dilakukan ketika air laut surut sehingga kita tidak perlu berenang, yang kedua snorkling metode ini cukup mudah dilakukan karena alat yang digunakan tidak terlalu banyak berupa snorkel, google glash, pelampung, kaki katak jika ada. Dan yang ketiga berupa diving, metode ini biasa dilakukan oleh profesional dan biasanya dilakukan di perairan dalam dan metode ini membutuhkan biaya yang cukup besar

Pada kegiatan ini kami menggunakan metode snorkling.

Saat akan melakukan snorkling yang harus diperhatikan adalah

  1. Kesehatan yang utama
  2. Snorkel, google glash, pelampung, kaki katak dan gps (opsional)
  3. Cuaca dan kekeruhan air

Cara mengambil sampel

  1. Lihat cuaca dan kekeruhan air
  2. Ukur suhu air dengan termometer
  3. Cari 1 koloni terumbu karang
  4. Cocokan warna yang paling gelap dengan CHC (coral health chart)
  5. Cocokan warna yang paling terang dengan CHC (coral health chart)
  6. Tulis di kertas tabel
  7. Sampel diambil minimal 20 koloni

    Coral yang menjadi putih atau pelunturan warna itu dinamakan coral bleeching ini terjadi karena terumbu karang tersebut mengalami stress. Yang mengakibatkan stress, yaitu dapat dari factor lingkungan tempat tinggal contohnya seperti di pelabuhan, pemanasan global. Iklim, pencemaran dan lainnya. Semakin pekat warna terumbu karang maka semakin sehat terumbu karang tersebut sebaliknya semakin pucat terumbu karang maka tingkat stress nya juga semakin tinggi.


Dokumentasi. Persiapan Pengambilan Data Coral Watch

Bersih-bersih di sekitar pantai

#Divisi Satwa Aquatik Liar (SAL)

#SalamKofa

#Salam Lestari

KELAS KONSERVASI DUGONG

“Lestarikan Dugong, Mamalia Laut yang Terlupakan”

    Pada tanggal 2 April 2023, UKM-KOFAKAHA mengadakan kegiatan Kelas Konservasi dugong yang dimana ini merupakan pertama kalinya UKM-KOFAKAHA melakukan kegiatan ini. Kegiatan kali ini diisi oleh Bapak Juraij Bawazier, S.Si, M,Si yang merupakan seorang peneliti dugong dari Yayasan Lamun Indonesia (YLI). Kegiatan ini berbentuk internal yang dimana difokuskan untuk menambah wawasan anggota UKM-KOFAKAHA. Dugong sendiri merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia, dan merupakan satu-satunya satwa ordo Sirenia yang area tempat tinggalnya tidak terbatas pada perairan pesisir. Dugong juga termasuk ordo sirenia yang masih bisa bertahan setelah manatee. Menurut data yang dikeluarkan oleh IUCN dugong masuk dalam kategori terancam. Sedangkan CITES mengkategorikan dugong kedalam Appendix 1.

    Sirenia memiliki kelenjar mamae yang mencirikan sebagai kelompok mamalia. Termasuk mamalia herbivora, dan dugong merupakan herbivora sejati.

    Adapun perbedaan dugong dengan manatee adalah dugong hidup di air asin, memiliki kulit yang halus, sekornya seperti bercabang seperti ikan dan biasanya ukurannya lebih kecil. Sedangkan manatee biasanya hidup di sungai, kulitnya memiliki tekstur seperti bekas cakaran, ekornya membulat dan biasanya ukurannya lebih besar. 

    Dugong masih 1 keluarga dengan gajah karena memiliki moncong yang kebawah. Dugong dulunya memiliki kaki namun karena hidup didalam laut jadinya kakinya mengalami perubahan dan sirip depannya tidak sama seperti sirip melainkan seperti tangan. Pada ekor dugong hanya berisi syaraf dan tulang rawan. Adapun persebaran dugong meliputi indonesia, Australia dan India.

    Dugong memiliki bobot sekitar 400kg dan dia merupakan herbivora sejati. Mampu menahan nafas selama 8 menit didalam air. Dugong akan mengambil nafas ke permukaan selama 1-2 detik dan kembali lagi ke dalam air. Hewan ini bernafas menggunakan paru-paru dan tidak memiliki insang. 

Adapun morfologi dari dugong sendiri adalah: 

  1. Warnanya coklat keabuan 
  2. Katup mulut akan tertutup saat didalam air
  3. Telinga tidak bercuping 
  4. Tangan dugong memiliki 5 jari

    2 sirip ditangan memiliki selaput untuk mengatur arah renang sedangkan sirip belakang untuk mengatur gerakan renang. Dugong memiliki puting, susunya akan keluar seperti pasta yang terletak di bawah ketiak atau celah sirip depan biasanya anak dugong akan menyusu menempel pada celah sirip tersebut. Dugong hidup dipadang lamun dekat terumbu karang.

    Aktivitas harian dugong 41% makan, 32% traveling, 1% istirahat. 6% sosialisasi, 1% Rolling dan 18% naik kepermukaan. Dugong merupakan hewan yang suka bepetualang dan biasanya akan kembali ketempat asalnya. Hanya saja petualngan dugong hanya mencakup wilayah lokal.

    Biasanya yang mempengaruhi dugong untuk melakukan perjalan ini adalah faktor makanan atau keamanan dari wilayah yang ditempati. Dugong tidak suka berenang didaerah pasang surut dia lebih suka beraktivitas disekitar terumbu karang. Dugong akan beristirahat dipermukaan kolam dan dasar perairan dan terkadang bisa tertidur juga.

    Kebiasaan dugong ketika mencari makan adalah akan memakan lamun yang bagian atasnya saja dan biasanya padang lamun yang sudah dimakan oleh dugong akan meninggalkan jejak yang disebut feeding reel. Dugong juga bisa dijadikan sebagai bio indikator untuk kesehatan padang lamun, karena dugong hanya akan memakan lamun yang kondisinya baik saja. Untuk menjaga homeostasis tubuhnya dugong akan menjaga tubuhnya agar tetap dalam keadaan basah.

    Salah satu petunjuk untuk membedakan jenis kelaminnya adalah posisi celah kelaminnya terhadap anus dan pusar sedangkan betina, celah kelaminnya terletak lebih dekat ke anus. Dugong akan siap bereproduksi ketika berusia 9-10 tahun dengan usia kandungan selama 12 – 14 bulan dan pada umumnya hanya melahirkan seekor anak dalam satu kali proses reproduksi. Seekor duyung umumnya memiliki jarak kehamilan selama 2,5 – 7 tahun. Guna menghindari pemangsa dugong akan melahirkan anaknya diperairan dangkal dengan kedalaman 2-2,5 meter. Induk dugong akan menyusi anaknya selama 14-18 bulan dan disapih pada umur 7 tahun. Betina umur 9 tahun sudah bisa dikawini dan jantan berusia 10 tahun.

    Perilaku kawin dugong dimana dia akan kawin ketika menemuka pasangan yang pas saja. Sebelum kawin jantan akan mendorong muncungnya keperut sibetina lalu dugong akan kejar - kejaran dan berputar putar. Setelah kawin dugong jantan akan pergi dan tidak kembali.

    Ancaman yang membahayakan hidup dugong antara lain terdampar, perburuan, terjerat jaring dan terkena kapal. Penyakit juga termasuk salah satu ancaman dugong. Penyakit yang biasa di derita oleh dugong adalah parasit cacing pipih dan opisthrotema.

    Untuk itu mari kita bersama-sama untuk terus menjaga dan ikut serta dalam pelestarian satwa tersebut. Agar keseimbangan ekosistem tetap terus terjaga untuk bumi yang lebih baik


#Divisi Satwa Aquatik Liar (SAL)

#Salam Lestari











BELAJAR MENANAM MANGROVE

"Satu Mangrove untuk Seribu Kehidupan"


    Pada tanggal 14 Mei 2023 UKM-KOFAKAHA kembali melakukan aksi menanam mangrove yang dilakukan di Kawasan Mangrove Lamnga. Pada kegiatan “Belajar Menanam Mangrove” ini, diketuai langsung oleh Bunga Isra Laila yang merupakan Anggota Aktif UKM-KOFAKAHA dari DIVA 20. Kegiatan ini dibimbing oleh Bapak Muhammad selaku penggiat mangrove di kawasan tersebut. Pada kesempatan kali ini UKM-KOFAKAHA menanam sekitar kurang lebih 200 bibit mangrove. Mangrove sendiri merupakan hutan atau sekelompok tumbuhan yang hidup didaerah dipasang surut yang tumbuh ditepi pantai. Mangrove memiliki 100 jenis dan 61 terdapat di indonesia (Aceh) dan 39 sisanya terdapat di Amerika Latin.

Beberapa jenis mangrove di daerah pasang surut :

  1. Mucronata (dalam bahasa Aceh : Bangka'u) ---> ukurannya sekitar 60-70 cm. 
  2. Stylosa ---> ukurannya lebih pendek, atau setengahnya dari jenis Mucronata. 
  3. Apiculata
  4. Seriotagal 
  5. Avicennia


Dokumentasi. Foto bersama Pemateri "Bapak Muhammad"

    Bibit pohon bakau terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Mahkota (paling atas), Kepala (Kotiledon) yang jika dibuka terdapat Plumula dan Buah (Propagul) yang dapat dimanfaatkan menjadi arang dengan cara dipotong-potong.
    Cara Penanaman Manggrove yaitu dengan cara siapkan tanah di polibag, tancapkan pohon Mangrove ke polibag lalu simpan didaerah pasang surut. Kemudian nanti setelah 35-40 hari, bagian kepala akan menggembung dan memanjang. Kemudian akan tumbuh pucuk & daunnya. Saat tersebut, benih pohon Mangrove sudah bisa dikeluarkan dari polibag dan ditanam di tanah. Lalu nantinya pada bagian buahnya, benjol-benjolannya akan mengeluarkan akar-akar tunjang. Meskipun hidup diair asin, pohon Mangrove meminum air tawar. Nantinya air asin akan dicerna didaun untuk menjadi air tawar lalu disebarkan keseluruh bagian tumbuhan. Hal ini dibuktikan dengan pada pagi harinya, permukaan daun akan terasa seperti garam- garam halus apabila di raba yang akan mencair dengan sendirinya jika terkena sinar matahari. Jadi, pohon Mangrove juga bisa hidup di air tawar. 2 lembar daun berarti berusia 1 bulan. 2 pangkat lembar daun berarti 2 bulan. 3 pangkat lembar daun berarti 3 bulan. dst... Pucuk daun bisa dipakai untuk mengukur keasinan air laut yang ada di tanah dalam proses pembuatan garam. Jarak penanaman dari pohon Mangrove juga sesuai kebutuhan/kepentingan.

Bibit Mangrove

Cara Penanaman Mangrove

    Pada umumnya, jika hanya untuk sekedar kawasan pemberdayaan/budi daya, 1 ha tanah bisa ditanami dengan 10.000 mangrove dengan rumus 1x1. Sedang penanaman pohon Mangrove untuk hutan mangrove yang berfungsi untuk menahan abrasi pantai, pohon Mangrove akan ditanam secara rapat dengan rumus 1x5 (mata lima) yang menghasilkan 1 ha tanah = 15.000 mangrove. Daun pohon Mangrove, terutama pucuknya, baik untuk menjadi pakan kambing, domba, sapi ataupun hewan ternak lainnya. Sementara itu, akar-akar dari mangrove yang saling bertautan, menjadi tempat yang baik untuk burung bangau bertelur.

Penyerahan Sertifikat kepada Pemateri

Penyampaian Materi

Foto Anggota UKM-KOFAKAHA bersama Pemateri "Bapak Muhammad"

“Jika bukan kita yang menjaga dan mau mencoba, siapa lagi. Banyak yang dapat kita manfaatkan dari Hutan Mangrove ini. Tidak hanya untuk kelestarian ekosistem, namun juga peningkatan ekonomi untuk masyarakat sekitar”- Bapak Muhammad.


#Divisi Satwa Aquatik Liar (SAL)
#SalamKofa
#SalamLestari!

PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR 2025 “Tangan Kita, Harapan Mereka: Bersama Selamatkan Penjaga Laut” Pada hari Minggu, 28 September 2025 UK...