
UKM-KOFAKAHA
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
1. Profil
Konservasi Fauna Kedokteran Hewan merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yeng bergerak di bidang onservasi dan medis satwa liar. Organisasi ini didirikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala pada tanggal 2 September 1998. Dasar pendirian organisasi ini adalah sebagai bentuk keprihatinan kepada satwa liar yang mulai terancam punah.
Anggota UKM-KOFAKAHA USK adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang terdaftar sebagai anggota. Tujuan UKM-KOFAKAHA USK adalah terbentuknya mahasiswa yang bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki wawasan yang luas, profesionalisme, integritas kepribadian yang intelektual, serta kepekaan social dibidang konservasi medis satwa liar.
2. Struktur Kepengurusan UKM-KOFAKAHA FKH USK 2022-2023
Kegiatan-Kegiatan UKM-KOFAKAHA
1. Biro Dana dan Usaha
Pencetakan note book dengan desain badak
sumatera, dilakukan apada
akhir kepengurusan, sejumlah 8 buah. Tujuan membuat marchandise yaitu, dengan adanya slogan
untuk menjaga dan melindungi Badak Sumatera yang terancam punah guna mengajak
pembeli peduli terhadap satwa liar tersebut.
Untuk katalog dan pemesanan produk dapat di akses melalui instagram Biro Dana dan Usaha : @kocraft.store.
2. Divisi Pendidikan dan Pelatihan Akademik
1.
BE
PRO “Be Greater With Be Pro”
ONE DAY WITH KOFA “We Are Family, We Are One”
3. Divis Aves Liar
Webinar aves liar adalah salah
satu program kerja dari divisi aves liar. Webinar ini berjudul “Dasar Manajemen
Aves di Pusat Konservasi atau Rehabilitasi” dengan pemateri drh. Dyah Ayu Risdasari Tiyar Noviarini pada
hari sabtu 15 oktober 2022 melalui via zoom. Merupakan salah satu webimar
internal UKM KOFAKAHA yang bertujuan untuk menambah pegetahuan atau wawasan
serta skill anggota UKM KOFAKAHA di bidang aves.
Pusat penyelamatan satwa
didirikan sebagai salah satu upaya penegakan hukum untuk satwa yang dilindungi
yang merupakan satu komitmen bersama antara KLHK dan Dirjen KSDAE BKSDA.Tujuannya
untuk mengakomodasi hasil proses penyitaan/serahan dan penertiban satwa liar
yang dilindungi sebagai salah satu tindak lanjut proses penegakan hukum, dan
berfungsi mendukung secara teknis penanganan dan pengelolaan satwa yang
dilindungi hasil sitaan/serahan sebagai barang negara
Beberapa aspek Kesejahteraan
Satwa seperti bebas dari rasa haus dan lapar, bebasdari rasa sakit, luka dan
penyakit, benas dari rasa takut atau tertekan, bebasi stress atau
ketidaknyamanan, dan bebes untuk bertingkah lauk normal. Faktor faktor yang
mempengaruhi kesehatan satwa seperiti pakan, ligkungan dan penyakit.
Manajemen kesehatan satwa
dengan melalukan pemeriksaan kesehatan contohnya karantina untuk satwa yang
skit dan juga pemeriksaan rutin. Pemeriksaan fisik seperti morfologi,
morfometri burung (bentuk, sayap, bulu, paruh, dll), berat badan satwa. Dan juga pengambilan dan pemeriksaan sampel
seperti darah, fases,parasit, skin scrab dan swab.
Mengenal Si Enggang
Salah
satu burung berukuran besar yang menjadi kekayaan fauna di Indonesia
adalah burung rangkong atau juga dikenal dengan nama enggang. Selain ukuran badannya yang
besar, rangkong juga memiliki paruh besar, panjang, namu nringan.
Kepakan sayapnya terdengar keras serta memiliki suara yang
khas. Beberapa jenis memiliki tanduk (casque) yang menonjol di atas paruh
yang kadang-kadang memiliki warna mencolok.
Terdapat 62 jenis rangkong
yang tersebar di Afrika, Asia wilayah tropis, Indonesia, dan Papua Nugini. Khusus
di Indonesia, terdapat 13 jenis rangkong yang tersebar dan 3
diantaranya merupakan endemik Indonesia yaitu julang sulawesi (Ryhticeros cassidix),
kangkareng sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus), dan julang sumba (Ryhticeros everetti).
Sedangkan di Pulau Jawa sendiri terdapat 3 jenis rangkong yaitu julang emas (Rhyticeros undulatus),
rangkon gbadak (Buceros rhinoceros), dan kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris).
Jenis lainnya adalah enggang klihingan
(Anorrhinus galeritus), enggang jambul (Berenicornis comatus),
julang jambul-hitam (Rhabdotorrhinus corrugatus), kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus),
rangkong gading (Rhinoplax vigil), rangkong papan (Buceros bicornis),
dan julang papua (Rhyticeros plicatus).
Pada umumnya
rangkong memiliki balungan yang berongga, rangkong gading adalah satu satunya
jenis rangkong yang memiliki balung. Apabila membunuh satu rangkong janta maka
sama dengan membunuh 1 keluarga rangkong tersebut. Rangkong memiliki suara yang
bisa didengar samapai jarak 3 kilometer dan dapat terbang dan menjelajah sepanjang
173 km2
Status konservasi
burung rangkong. Semenjak tahun 2015, status perlindungan di tingkat
perlindungan burung rangkong gading telah berubah dari yang semula terancam
punah (
Near Threatened) menjadi kritis (
Critically Endangered) yang merupakan
status perlindungan terakhie sebelum punah.
Burung rangkong
adalah burung yang lebih aktif pada pagi hari karena mereka mencari makan pada
saat itu. Uniknya rangkong jantan memberi makan dengan cara memuntahkan satu
persatu buah pakan, kemudian diposisikan pada ujung paruh dan diberikan kepada
betina di dalam sarang.
4. Divisi Reptil dan Amfibi
Reptile Education Day
Kegiatan ini diselenggarakan oleh UKM-KOFAKAHA dengan nama kegiatan yaitu Reptile Education Day, yang bertemakan Upgrade Your Skill About Reptile. Maksud dan tujuan dilaksanakan kegiatan ini yaitu:
1. Mempererat silaturahmi antara anggota muda, pengurus aktif dan anggota luar biasa UKM- KOFAKAHA
2. Menambah wawasan dan mengembangkan skill anggota kofakaha tentang Medis pada reptil
3. Menambah wawasan anggota kofakaha tentang pemeliharaan dan perawatan pada reptil
4. Menambah wawasan anggota kofakaha tentang kesehatan Reptil
Kegiatan ini berbentuk Workshop dan kegiatan ini hanya ditujukan untuk seluruh anggota UKM-KOFAKAHA. Tempat pelaksaan kegiatan ini yaitu di Pantai Alue Naga pada hari Minggu, 2 Oktober 2021 pada pukul 14.00- Selesai.
Terdapat 2 hewan yang digunakan pada kegiatan ini yaitu ular dan kura-kura dan ada 3 topik pembahasan pada kegiatan ini, topik yang pertama yaitu cara pengambilan darah pada reptil yang disampaikan oleh Ferina Anggraini, S. KH, topik kedua yaitu penanganan pertama saat digigit ular dengan pemateri Hifzil Rahmatillah, S. KH, dan topik pembahasan terakhir yaitu Handling dan Restrain pada ular yang disampaikan oleh Fitrah Azmel Umur S. KH.
Mengenal Tuntong Laut (Batagur borneonsis)
Tuntong laut (Batagur borneoensis) merupakan kura-kura yang hidup di ekosistem mangrove. Tuntong laut merupakan reptil yang memiliki peran ekologis penting sebagai penyebar biji tumbuhan mangrove, khususnya Sonneratia sp.
Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudines
Famili : Geoemydidae
Genus : Batagur
Spesies :Batagur bornoensis
Morfologi dan Habitat
Tungtong laut (Batagur borneoensis) memiliki morofologi Karapas panjang, jantan dewasa lebih kecil dari betina dengan ekor yang lebih panjang dan tebal. Ciri-ciri yang khas berupa alur-alur hitam yang terdiri atas garis lebar sebanyak 3 buah pada karapas.
Berwarna putih dengan keping frontal hingga nostrilnya berwarna merah. Tungtong Laut (Batagur borneoensis) mendiami habitatperairan air tawar dan air payau. Tungtong Laut (Batagur borneoensis) semasa musim bertelur betina akan berenang keluar dari muara sungai untuk bertelur di pantai berpasir. Tungtong Laut (Batagur borneoensis) ukurannya mencapai lebih dari 62 cm dengan ukuran betina lebih besar dari jantan. Populasinya dialam liar telah lama terancam punah, hal ini disebabkan oleh faktor alam dan faktor aktivitas masyarakat.
Faktor alam yang menyebabkan berkurangnya jumlah populasi Tuntong laut (Batagur borneoensis) yaitu perubahan iklim dan penyakit, sementara faktor aktivitas masyarakat berhubungan dengan pemanfaatan Tuntong laut (Batagur borneoensis) seperti perburuan dan pengambilan telur Tungtong Laut (Batagur borneoensis) oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan nilai ekonomis
Status Konservasi.
Dalam status keterancaman yang dikeluarkan oleh IUCN
(International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) tahun 1996, tuntong laut ditetapkan sebagai salah satu jenis satwa dengan status
Critically Endangered (CE) karena telah terjadi penurunan populasi yang sangat signifikan mencapai 80% selama 10 tahun atau tiga generasi (IUCN 2014). Berdasarkan status perdagangan internasional, sejak tahun 1997 tuntong laut dimasukan ke dalam Appendix II CITES
(Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Persebaran
Tuntong laut merupakan salah satu jenis kura-kura air tawar berukuran besar yang sebaran alaminya hanya dijumpai secara terbatas di Asia Tenggara. tuntong laut diketahui terdapat di Selatan Thailand, pantai bagian Timur Sumatera, pantai bagian Barat dan Selatan Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunei.

Referensi
Aulia, H. S. dan Sudibyo, M. (2021). Preferensi tempat bertelur tuntong laut (Batagur borneoensis) di Kecamatan Seruway Aceh Tamiang. Jurnal Biosains, 7(3): 157-165.
Hernawan, E., Basuni, S., Masy’ud, B. dan Kusrini, M. D. (2018). Partisipasi stakeholder dalam
konservasi tuntong laut di Kabupaten Aceh Tamiang. Media konservasi, 23(3): 226-235.
Setyoko., Indriaty., Desy, R. dan Pandia, E. S. (2019). Etnozoologi masyarakat pesisir Seruway Aceh
Tamiang dalam Konservasi Tungtong Laut (Batagur borneoensis).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar