Rabu, 11 Desember 2024

Penanaman Mangrove

“Akar Kuat, Pantai Hebat”

    Pada hari minggu, 29 September 2024 UKM-KOFAKAHA kembali melakukan aksi menanam mangrove yang merupakan kegiatan rutin tahunan UKM-KOFAKAHA. Aksi ini dilakukan di lahan DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan), Mangrove Park, Lampula. Pada kegiatan penanaman mangrove ini diketuai oleh Asa Azhari yang merupakan Anggota Aktif UKM-KOFAKAHA dari Diva 23. Kegiatan ini dibimbing oleh bapak Fikri Sulaiman mulai dari pemberian materi mengenai mangrove hingga praktik penanaman mangrove. Pada kesempatan kali ini, UKM-KOFAKAHA menanam sekitar 300 bibit mangrove. 

Beberapa jenis mangrove, yaitu:

1. Rizhospora yang memiliki akar tunjang. Rizhospora ini mempunyai 3 jenis yaitu:

  • Mucronata, biasanya dilakukan penanaman pada air yang dalam
  • Stylosa, penanamannya pada air yang genangannya tidak terlalu dalam
  • Apiculata

2. Avicennia sebagai penahan abrasi yang paling bagus. Avicennia terdiri dari 4 jenis, yaitu;

  • Avicennia Marina
  • Avicennia Officinalis
  • Avicennia Alba
  • Avicennia Rumphiana
3. Sylindrica merupakan jenis mangrove yang sedang belajar berbuah. Mangrove jenis ini biasanya berbuah pada umur 9-10 tahun. 
  • Bruquera Sylndrica, memiliki akan berbentuk papan
  • Bruquera Gymnorizha, jarang ditemui. Memiliki sekitar 5 jenis dan terdapat 3 jenis di Indonesia.
  • Cheryog

Penyebab kegagalan pada penanaman mangrove:
  • Pemilihan bibit tidak cukup bagus
  • Tidak sedang musim buah

Manfaat mangrove: 
  1. Mangrove memiliki jenis yang dapat menjadi obat racun dan luka bakar
  2. Mangrove memiliki jenis yang dapat menjadi pengganti nasi
  3. Mangrove memiliki jenis yang dapat menetralisir air laut/filter air
  4. Menahan angin serta abrasi

Monitoring Mangrove:
  1. Nomor
  2. Jenis
  3. Lingkar batang
  4. Tinggi
  5. Warna daun

Makhluk yang sering dijumpai disekitar mangrove:
  1. Aves/burung
  2. Kerang
  3. Kepiting
  4. Ikan
  5. Reptil
  6. Monyet
  7. Amfibi.

Hama yang dapat mengganggu pertumbuhan mangrove:
  1. Ternak 
  2. Tritip
  3. Serangga
  4. Ulat
  5. Manusia
  6. Pasang surut

Dokumentasi Lahan yang Sudah Ditanami Mangrove


Foto Bersama Anggota UKM-KOFAKAHA dengan Pihak Pemangku

#Divisi Satwa Aquatik Liar
#SalamKofa
#SalamLestari


CORAL WATCH

 Coral Watch

“Lestarikan Karang Investasi Masa Depan”


    Pada hari Sabtu malam, 11 Mei 2024 UKM-KOFAKAHA diberikan pengarahan serta pemberian materi mengenai terumbu karang dan mekanisme pengambilan data terumbu karan oleh pemateri yakni anggota luar biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA yaitu abangda Fakhri Alviandi, S. KH yang merupakan diva 21. Lalu pada hari Minggu, 12 Mei 2024 UKM- KOFAKAHA telah melaksanakan kegiatan coral watch di Pantai Inong Balee yang terletak di desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Dimana untuk mencapai Lokasi, kurang lebih menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam dari Banda Aceh. Perjalanan untuk mencapai Pantai Inong Balee melewati jalanan tepi pantai, serta melewati perkampungan dan perbukitan. Jalan menuju lokasi, dari jalan raya hingga mencapai pesisir pantai masih tergolong terjal seperti bebatuan dan tanah liat. Setibanya di lokasi, anggota UKM-KOFAKAHA diberikan materi serta pengarahan lanjutan oleh pemateri yakni anggota luar biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA yaitu abangda Farhan Giffary, S. KH. yang merupakan anggota Diva 21. Kegiatan coral watch ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya yang dihadiri oleh anggota aktif dan anggota muda UKM-KOFAKAHA.

    Coral Watch merupakan kegiatan dimana anggota UKM-KOFAKAHA akan mengambil data tentang Kesehatan terumbu karang. Terumbu karang merupakan hewan yang tidak memiliki tulang belakang (invetebrate) yang masuk ke dalam class antozoa. Terumbu karang terdiri dari individu berukuran kecil yang disebut polip yang terbentuk dari endapan CaCO₃ dan bersimbiosis dengan Zooxanthellae.  Zooxanthellae merupakan alga bersel satu yang hidup di dalam jaringan terumbu karang. Alga (zooplankton) ini sebagai pemberi nutrisi atau warna pada terumbu karang. Manfaat terumbu karang yakni menyerap CO2, Penghasil O2 terbesar di dunia, wisata bawah laut, tempat tinggal ekosistem laut, pencegahan gelombang besar, bahan obat-obatan (antibakteri, antikanker, antivirus), sumber ekonomi, dan lain sebagainya.

    Terumbu karang terdiri dari 4 jenis, yaitu boulder, plate,    braching, dan soft. Blouder merupakan terumbu karang yang paling kuat dan bersifat individu. Plate merupakan terumbu karang yang berbentuk seperti piring berlapis-lapis (foliosa). Braching merupakan terumbu karang yang memiliki bentuk bercabang seperti ranting. Soft merupakan terumbu karang yang paling rapuh. 

    Terumbu karang yang sehat yakni terumbu karang yang berwarna paling gelap. Warna terumbu karang yang tidak dapat diidentifikasi yaitu warna putih karena terumbu karang sudah mengalami kematian (bleaching), serta warna lain seperti biru, merah, dan ungu yang tidak dapat ditentukan kematiannya karena tidak berubah warna.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi keputihan (bleaching) pada terumbu karang:

  1. Suhu: Suhu minimal untuk terumbu karang bertahan hidup yaitu 18 °C, sedangkan suhu maksimal yakni 36-40 °C, dengan suhu optimal yakni 23-25 °C atau 21-29 °C.
  2. Cahaya: Zooxanthellae hidup membutuhkan cahaya.
  3. pH: Terumbu Karang dapat hidup pada pH 7-8,5.
  4. Salinitas: Tingkat garam di laut dapat mempengaruhi hidup terumbu karang, dengan kisaran 35-40 PPT (part per thousand).
  5. Arus Laut: Jika arus terlalu kuat, terumbu karang akan pecah. 
  6. Bioeresi: Kerusakan terumbu karang dapat diakibatkan faktor biologis, contohnya seperti ikan kakap tua yang menggrogoti terumbu karang atau bulu babi yang hidup di antara terumbu karang.  

Dalam pemeriksaan terumbu karang, alat yang dibutuhkan yakni pelampung, snorkel, mask, fins, CHC (Coral Health Chart), indikator suhu, indikator warna, pensil, dan penghapus. Terdapat 3 teknik pengambilan data yang dapat dilakukan, yaitu walking yang dilakukan saat air laut sedang surut, dengan cara berjalan menyusuri dasar laut, snorkling yang dilakukan di kedalaman dibawah 5 meter, dan diving yang dilakukan di kedalaman diatas 5 meter.  Sedangkan pengambilan sampel juga dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara random (acak), transect survey (secara garis lurus), dan permanen (rutin).

Dokumentasi: Proses pengambilan data coral

#DIvisi Satwa Aquatik Liar (SAL)

#SalamKofa

#SalamLEstari

Sabtu, 07 Desember 2024

 

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)


1. ETIOLOGI

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan primata non human yang memiliki keberhasilan adaptasi yang tinggi sehingga tersebar di berbagai tipe habitat. Monyet ekor panjang merupakan jenis primata yang hidup secara berkelompok sehingga tidak terlepas dari interaksi sosial dengan individu lain di dalam kelompoknya. Interaksisosial yang dilakukan monyet ekor panjangmenimbulkan munculnya berbagai aktivitas yang berbeda antar individu dalam satu populasi. Aktivitas sosial yang terjadi pada populasi montyet ekor panjang diantaranya social afiliation, social agonism, dan non-social activities yang termmasuk diantranya adalah bergerak, makan, dan inaktif. 

 Monyet ekor panjang memiliki fungsi ekologis dan dapat digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium (Rakhmadani, 2014). Menurut Seponada dan Firman (2010), beberapa fungsi ekologis yang diperankan oleh monyet ekor panjang yakni, sebagai penyemai dan penyebar biji tanaman buah yang penting bagi konservasi jenis tumbuhan di habitatnya. Monyet ekor panjang juga berperan penting dalam kehidupan di alam terutama proses regenerasi hutan tropik. Meski demikian, saat ini monyet ekor panjang masuk dalam kategori “Least concern” karena paling sedikit diperhatikan (CITES, 2014).


2. TAKSONOMI

Klasifikasi ilmiah hewan monyet ekor panjang menurut The International Union for Conservation of Nature Red List of Threatened Species tahun 2022 adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum      : Chordata

Kelas      : Mammalia

Ordo      : Primata

Familia  : Cercopithecidae

Genus    : Macaca

Spesies  : Macaca fascicularis


3. Morfologi Macaca fascicularis

Macaca ekor panjang, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Macaca fascicularis, adalah salah satu spesies primata yang paling umum ditemukan di Asia Tenggara. Mereka memiliki ciri khas berupa ekor yang lebih panjang dibandingkan dengan tubuhnya, serta wajah yang ekspresif (Pratama et al., 2022).


Macaca fascicularis merupakan macaca terkecil di Indonesia. Ekornya panjang mencapai 36 – 71,5 cm pada individu jantan dan 31,5 – 63,8 cm pada individu betina. pada umumnya ukuran tubuh individu di wilayah pesisir atau dataran rendah lebih besar daripada individu yang hidup diketinggian yang lebih tinggi. Monyet ekor panjang pada umumnya mempunyai warna yang bervariasi dari coklat atau coklat keabu-abuan. Mereka memiliki wajah cokelat kemerahan dan bulu-bulu di atas kepalanya. Monyet jantan dan betina mempunyai beberapa perbedaan di antaranya jantan memiliki kumis pada bagian pipi dan bingkai wajah, sementara betina memiliki janggut serta cambang pipi. Selain menjadi lebih tinggi dan lebih berat, jantan memiliki gigi taring yang lebih besar banyak dari perempuan. Monyet memiliki kantong pipi di mana mereka dapat menyimpan makanan dan mengangkutnya dari tempat makan untuk memakannya menjadi abu-abu atau abu kecoklatan Macaca ekor panjang memiliki ukuran tubuh yang bervariasi, dengan panjang tubuh sekitar 40-60 cm dan berat antara 5-10 kg. Ekornya yang panjang berfungsi untuk menjaga keseimbangan saat bergerak di atas cabang-cabang pohon (Risdiyansyah et al., 2020).


4. HABITAT  Macaca fascicularis

Macaca ekor panjang dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk hutan hujan, hutan mangrove, dan daerah perkotaan. Macaca fascicularis tersebar luas di Asia, mulai dari Banglades, India, Kamboja, Myanmar (Kepulauan Mergui), Filipina (Balabec, Basilan, Cagayan Sulu, Culion, Jolo, Leyte, Luzon, Mindanao, Mindoro, Palawan,Samar), Vietnam, Thailand, Laos, Malaysia (Peninsula, Sabah, Sarawak), Singapura dan Timor Leste. Di Indonesia, spesies ini dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sumba dan Timor. Kehadiran mereka di daerah perkotaan sering kali menyebabkan interaksi dengan manusia, yang dapat berujung pada konflik.



Macaca fascicularis hidup di hutan primer dan sekunder pada dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 1000 m diatas permukaan laut. Di dataran tinggi umumnya ditemukan di hutan sekunder atau daerah perkebunan. Selain itu juga ditemukan di hutan mangrove dan di dekat pemukiman warga.


5. PERILAKU DAN GAYA HIDUP

Macaca ekor panjang adalah hewan sosial yang hidup dalam kelompok yang terdiri dari beberapa individu. Struktur sosial mereka biasanya didominasi oleh betina, dan kelompok ini dapat terdiri dari 20 hingga 30 anggota. Mereka berkomunikasi melalui berbagai suara, gerakan tubuh, dan ekspresi wajah. Gaya hidup macaca ekor panjang yaitu aboreal dan komunal. Struktur sosial mereka bersifat hierarkis, di mana status individu dalam kelompok memengaruhi akses terhadap makanan dan pasangan. Interaksi antarindividu sering melibatkan perawatan sosial, seperti membersihkan bulu satu sama lain, yang memperkuat ikatan kelompok.

Macaca fascicularis hidup di atas pohon, biasanya pohon di dekat sungai untuk beristirahat. Spesies ini berkelompok dengan jumlah yang bervariasi, umumnya berkisar 20 – 30 individu seimbang antara jantan dan betina. Ukuran kelompoknya sesuai dengan keberadaan predator dan makanan di area tersebut. Sering terjadi kompetisi antara pejantan di dalam kelompok, kompetisi dengan kelompok lain biasanya disebabkan oleh makanan. 

Macaca fascicularis merupakan hewan pemakan segala atau omnivora,, Macaca ekor panjang mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk buah-buahan, daun, biji-bijian, dan serangga, jamur, tanaman merambat. Selain itu juga diketahui memakan kepiting, kerang, udang dan crustasea lainnya. Mereka dikenal sebagai pemanjat yang ulung, sehingga dapat mengakses makanan yang tinggi di pohon.


6. AKTIVITAS MAKAN

 Ketika mencari makan, monyet ekor panjang selalu berpindah tempat sesuai dengan ketersediaan makanan yang tersedia. Secara umum, primata ini termasuk herbivora dan memilih buah sebagai makanan utama. Pemilihan buah yang dikonsumsi oleh monyet seringkali didasari pada berat buah, warna, aroma, dan kandungan nutrisinya. Bukan hanya buah, monyet ekor panjang juga memakan serangga, daun, bunga biji, dan umbi sebagai sumber makanan alternatif (Quinda et al., 2023)


Perilaku makan primata memiliki keunikan tersendiri, di mana mereka memiliki kemampuan untuk menggenggam makanan sebelum dimakan dan sistem pencernaan yang berkembang baik, terutama pada bagian sekum yang membantu dalam proses pencernaan. Selain itu, naluri alami primata terhadap makanan yang dibutuhkan juga turut memengaruhi pola makan mereka (Karyawati, 2019).

7. PERILAKU REPRODUKSI

Monyet ekor panjang betina dominan mengalami kematangan seksual ketika berumur empat tahun, dan mulai bereproduksi sebelum usia lima setengah tahun sedangkan yang bukan dominan akan bereproduksi setelah berumur lima setengah tahun. Monyet ekor panjang jantan mengalami kematangan seksual pada umur tujuh tahun. Proses perkawinan monyet ekor panjang dapat terjadi sepanjang tahun (bukan musiman), tetapi tidak dapat dilakukan setiap hari karena siklus estrusnya 28 hari, dengan lama fase estrus 11 hari serta ovulasi terjadi pada hari ke-13. Proses perkawinan hanya dapat terjadi setelah fase estrus berakhir. Normalnya monyet ekor panjang betina dewasa dapat melahirkan setiap dua tahun sekali dengan satu anakan/kelahiran, masa kehamilan 167 hari dan masa laktasi 18 bulan. Lambatnya laju pertumbuahan populasi dan sedikitnya proporsi usia reproduktif menyebabkan rendahnya populasi monyet ekor panjang (Fakhri et al., 2019)

Mereka memiliki perilaku kawin yang kompetitif, dengan pejantan dominan cenderung memiliki kesempatan lebih besar untuk bereproduksi. Betina biasanya melahirkan satu bayi setelah masa kehamilan sekitar enam bulan, dan induk betina sangat melindungi anaknya. Anak monyet ekor panjang tinggal bersama induknya hingga mampu mandiri.Individu jantan Macaca fascicularis mencapai umur kematangan sekitar usia 6 tahun, sedangkan individu betina sekitar usia 4 tahun. Pada saat betina mendekati waktu ovulasi kulit di daerah perineum (antara pangkal ekor dan anus) membengkak, individu betina menyembunyikan waktu ovulasi untuk membujuk individu jantan tinggal lebih lama. Waktu kera betina mengandung diperkirakan sekitar 162 hari, dengan interval antar kelahiran sekitar 390 hari. Kera muda dirawat hingga umur 420 hari, lamanya waktu menyusui dan interval antar kelahiran dipengaruhi oleh peringkat betina. Puncak kelahiran spesies ini antara bulan Mei dan Juli, bersamaan dengan musim hujan.


8. ANCAMAN POPULASI DAN STATUS KONSERVASI

 Meskipun Macaca ekor panjang memiliki populasi yang cukup besar, mereka menghadapi berbagai ancaman, termasuk kehilangan habitat akibat deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal. Upaya konservasi diperlukan untuk melindungi spesies ini dan habitat alaminya (Santoso et al., 2015).

Ancaman terhadap populasi Macaca fascicularis terbesar datang dari manusia. Spesies ini banyak diburu untuk dipelihara dan dimakan, selain itu mereka juga dibunuh karena dianggap sebagai hama pertanian. Di Kamboja dan Vietnam kera betina biasanya dibawa ke tempat pembiakan dan kera jantan diekspor untuk digunakan dalam penelitian. Namun di beberapa negara spesies ini dilindungi karena jumlahnya yang semakin berkurang. Di Bali kera banyak ditemukan di tempat suci, sehingga dianggap sebagai hewan yang sakral ( Zairina et al., 2018).

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), berdasarkan status IUCN memiliki status konservasi (endangered) terancam punah. Spesies ini mengalami perubahan status yang awalnya memiliki status (vulnerable) yaitu status yang menghadapi risiko kepunahan di alam liar dalam waktu yang akan datang berubah menjadi (endangered) yaitu spesies yang menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat (Zaksen et al., 2021).


#Divisi Primata

#Salam Lestari






DAFTAR PUSTAKA

CITES. 2014, Macaca fascicularis (Raffles, 1821): Cam odia, ndia, Indonesia, Lao People’s Democratic Republic, Mauritius, Palau, Philippines, Viet Nam, United.   Nations Environment Programme World Conservation Monitoring Centre, United Kingdom.

Fakhri, K., Priyono, B., Rahayuningsih, M. (2019). Studi awal populasi dan distribusi Macaca fascicularis raffles di cagar alam ulolanang. Unnes J Life Sci, 1(2): 1-6

Karyawati AT. (2019). Tinjauan umum tingkah laku makan pada hewan primata.Jurnal.  Penelitian Sains. 15(1): 44-47.

Pratama, Y., Rizwar, Darmi, D., Lestari, D. F., & Riandini, E. (2022).     Aktivitas.          harian monyet ekor panjang (Macaca fascicularis fascicularis) di kawasan taman wisata alam (twa) pantai panjng kota bengkulu . Konservasi Hayati,                  18(2), 51–58.

        Risdiyansyah, R., Harianto, S. P., & Nurcahyani, N. (2014). Studi Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis) Di Pulau Condong Darat Desa Rangai.                           Kecamatan Ketibung Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Sylva Lestari, 2(1),             41–48.

 Santoso, B., Sumitra M. dan, Rahayuningsih, M. (2021). Studi perilaku monyet ekor.           panjang (Macaca fascicularis Raffles) dan persepsi pengunjung di goa kreo kota semarang pada masa pandemi covid-19. Indonesian Journal Of Conservation, 9(2) : 1-9

Quinda, B., Kanedi, M., Nurcahyani, N., & Panjaitan, R. H. (2023). Studi tumbuhan sumber pakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan youth camp Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung. Jurnal.                                     Ilmiah  Biologi Eksperimen Dan Keanekaragaman Hayati, 1(1), 44 47.

 Zairina, A., Yanuwiadi, B. dan  Indriyani, S. (2018). Pola penyebaran harian dan karakteristik tumbuhan pakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis R.) di hutan rakyat ambender, pamekasan. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari, 6(1) : 1-10.


Zaksen, A., Harianto., Sugeng, P., Fitriani., Rahma, Y., Winarmo., Djoko, G.                        D. (2021), Perilaku harian monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada objek wisata : study kasus di taman hutan kerja bandar lampung, provinsi lampung. Jurnal Hujan Tropis, 9(2) : 9-16.

PENANGANAN MAMALIA LAUT TERDAMPAR 2025 “Tangan Kita, Harapan Mereka: Bersama Selamatkan Penjaga Laut” Pada hari Minggu, 28 September 2025 UK...