UKM-KOFAKAHA
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
Profil
Kegiatan-kegiatan UKM-KOFAKAHA
Divisi Mamalia Liar
Workshop Harimau Sumatera
”Physical
Examination and Rahabilitation Management of Sumateran Tiger”
Pada hari Minggu tanggal 03 September 2023 telah
dilaksanakan Workshop Harimau Sumatera oleh UKM-KOFAKAHA (Unit Kegiatan
Mahasiswa Konservasi Fauna Kedokteran Hewan) Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Syiah Kuala. Workshop ini mengangkat tema yaitu “Physical Examination and Rehabilitation
Management of Sumateran Tiger” dan termasuk
dalam rangkaian kegiatan “KOFA VET
ACTION” UKM-KOFAKAHA. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Baru FKH USK
yang berlangsung dari pagi hingga sore dan diikuti oleh anggota UKM-KOFAKAHA
serta mahasiswa FKH USK.
Adapun pelaksanaanya diawali dengan penyampaian materi dan dilanjutkan dengan
praktek menggunakan hewan peraga. Pemateri dari acara ini yaitu drh. Anhar
Lubis (Koordinator Leuser Rescue Team-FKL), drh. Rosa Rika Wahyuni (Dokter
Hewan Satwa Liar BKSDA Aceh), M.Si, drh. Zulius Zul (Dokter Hewan FKL), drh.
Mahmudi (Dokter Hewan FKL sekaligus Anggota Luar Biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA), dan
drh. Muhammad Agung (Dokter Hewan FKL sekaligus Anggota Luar Biasa (ALB)
UKM-KOFAKAHA). Kegiatan ini berjalan dengan baik diiringi dengan antusias
peserta yang tinggi selama pelaksanaan kegiatan.
Workshop Harimau Sumatera dilaksanakan dengan tujuan
untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa FKH USK terkait Physical Examination dan Manajemen
Rehabilitasi pada Harimau Sumatera serta menimbulkan rasa kepedulian mengenai
pentingnya menjaga kelestarian Harimau Sumatera bagi kehidupan ekosistem.
Harimau Sumatra merupakan salah satu satwa liar yang keberadaannya terancam
punah dan termasuk dalam daftar merah spesies terancam yang di rilis oleh
Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Harimau Sumatera tergolong ke dalam satwa yang di lindungi di Indonesia
berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan
Ekosistemnya. Populasi Harimau Sumatera menjadi terancam di alam karena
banyaknya perburuan liar, perdagangan liar serta kerusakan habitat mereka yang
disebabkan oleh manusia. Jerat menjadi hal yang mengerikan bagi Harimau
Sumatera karna pemburu biasanya menggunakan jerat untuk berburu dan kemudian
satwa tersebut akan diperjualbelikan. Maka dari itu mari kita bersama-sama
bertindak lebih bijak untuk upaya pelestarian Harimau Sumatera agar ekosistem
tetap terjaga dan anak cucu kita nantinya masih dapat menikmati kekayaan
ekosistem yang ada.
Dokumentasi kegiatan workshop Harimau Sumtera:
KELAS KONSERVASI GAJAH
“Penyakit Elephant
Endotheliotropic Herpes Virus
(EEHV) pada
Gajah Sumatera (Elephas maximus
sumatranus) serta Tindakan
Penanganannya”
Pada bulan mei lalu, tepatnya
hari Sabtu, 20 Mei 2023 UKM-KOFAKAHA telah melaksanakan kegiatan
kelas konservasi gajah dalam bentuk seminar yang dibawakan oleh Christopher
Stremme, DVM. Kegiatan ini mengangkat kasus yang sedang marak terjadi pada gajah, khususnya pada gajah muda, yaitu penyakit Elephant Endotheliotropic
Herpes Virus (EEHV) pada gajah
sumatera (Elephas maximus sumatranus)
serta tindakan penanganannya. Seminar
kelas konservasi gajah dilaksanakan di aula gedung baru FKH USK. Kegiatan
ini dihadiri oleh wakil dekan
III FKH USK, tim PKSL, anggota UKM-KOFAKAHA, anggota luar biasa UKM-KOFAKAHA, dokter hewan, mahasiswa PPDH dan PDH FKH USK.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan dan memperdalam ilmu
mahasiswa tentang penyakit EEHV pada Gajah Sumatera, mengetahui gejala klinis
dari penyakit EEHV pada Gajah Sumatera dan mengetahui tindakan penanganan
penyakit EEHV pada Gajah Sumatera.
Penyakit EEHV disebabkan oleh virus dari
famili herpesviridae genus proboscivirus. Penyakit
ini pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 2012, tepatnya di Tangkahan, Sumatera
Utara. EEHV spesifik
menyerang gajah dan tidak bersifat
zoonosis, namun penyakit
ini jarang ditemukan pada gajah afrika. Pada gajah usia 1 – 8 tahun
menimbulkan gejala yang serius. Virus
herpes sebenarnya normal ketika ditemukan pada tubuh gajah, namun akan menjadi patogen
ketika kondisi imunosupresif.
Maka diharapkan setelah terlaksananya kelas konservasi ini kita dapat
mengetahui bagaimana tindakan penanganan serta pencegahan yang dapat dilakukan
untuk mengurangi paparan dari virus tersebut pada Gajah Sumatera.
Berikut adalah tindakan penanganan dan pengobatan yang dapat diberikan pada gajah yang terinfeksi adalah dengan
terapi fluid, per rektal (air 2 – 15 L frekuensi pemberian
2 – 4 kali/hari), intravena
(NaCl, Ringer laktat 5 – 10 mL/kg BB, Biodin + hematodin); pemberian obat
antivirus, seperti Famciclovir (15 mg/kg BB per oral atau per rektal frekuensi pemberian 3 kali/hari),
Ganciclovir (5 mg/kg intravena frekuensi pemberian 2 kali/hari), dan Acyclovir (15 mg/kg BB per oral atau per rektal
frekuensi pemberian 2 – 3 kali/hari).
Dokumentasi kegiatan Kelas Konservasi Gajah :
Anoa
(Bubalus Depressicornis)
Anoa atau disebut dengan ilmiah Bubalus sp. merupakan salah satu mamalia endemik khas Indonesia yang berasal dari Pulau Sulawesi. Ada dua spesies anoa, yaitu: Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis).
Taksonomi

Filum :Chordata
Kelas
: Mammalia
Ordo :Herbivora
Famili :Bovidae
Genus :Bubalus
Spesies :Bubalus Depressicornis
Morfologi
dan Habitat
Anoa dataran rendah relatif lebih kecil, ekor
lebih pendek dan lembut, serta memiliki tanduk melingkar. Sementara anoa pegunungan
lebih besar, ekor panjang, berkaki putih, dan memiliki tanduk kasar dengan
penampang segitiga. Anoa
dataran rendah atau Bubalus depressicornis memiliki tinggi pundak antara 80–100
cm, sedangkan anoa dataran tinggi atau Bubalus quarlessi antara 60–75 cm. Pada kaki bagian depan
(metacarpal) berwarna putih atau mirip sapi bali namun mempunyai garis hitam ke
bawah. Tanduk mengarah ke belakang menyerupai penampang yang bagian dasarnya
tidak bulat seperti tanduk sapi melainkan menyerupai bangun segitiga seperti
tanduk kerbau.
Anoa termasuk hewan hutan hujan, salah
satu kebiasaan yang sering dilakukannya adalah berkubangan di lumpur. Mereka paling aktif pada
saat pagi dan sore hari, ketika udara masih dingin. Karena anoa memiliki
kebiasaan mendinginkan tubuh mereka, karena itulah terkadang mereka suka
berendam di lumpur atau air. Di
alam bebas, anoa memakan makanan yang berair (aquatic feed), seperti
pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian.
Anoa hidup semi soliter, yaitu hidup sendiri atau berpasangan dan hanya akan bertemu dengan kawanannya jika si betina akan melahirkan. Lokasi tempat hidup Anoa jauh dari jangkauan manusia dan menyukai sumber air permanen. Habitat anoa berada di hutan tropika dataran, sabana (savanna), terkadang juga dijumpai di rawa-rawa. Mereka merupakan penghuni hutan yang hidupnya berpindah-pindah tempat.
Perburuan makanan dianggap sebagai ancaman bagi spesies ini.Ada juga perdagangan hewan hidup dan lainnya bagian tubuh (mungkin untuk obat). Laporan terbaru menunjukkan bahwa perburuan adalah yang paling banyak dilakukan sebagai ancaman serius. Spesies ini terdaftar dalam Appendix I CITES dan dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum Indonesia (Jahja 1987).Sejak tahun 1986 hingga 2009, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan anoa sebagai satwa terancam punah (Endangered species).Sampai saat ini konservasi anoa difokuskan pada perlindungan terhadap kawasan hutan dan penangkaran. Hambatan bagi konservasi.
Divisi Satwa Aquatik Liar
Mamalia laut adalah organisme mamalia yang bergantung pada samudra atau lingkungan perairan lainnya (asin, payau, tawar) untuk bertahan hidup. Definisi dari Mamalia Laut Terdampar adalah mamalia laut yang ditemukan di pantai atau perairan dangkal, baik hidup maupun mati, dalam kondisi apapun (termasuk terlilit jaring) yang berada dalam kondisi tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan untuk kembali ke habitat alaminya dengan usahanya sendiri. Untuk itu kita sebagai dokter hewan khususnya, harus tau dan mempelajari bagaimana yang harus kita lakukan ketika adanya kasus mamalia laut terdampar. Sebelum kita mempelajari cara penanganan, tentunya kita harus mengetahui anatomi dan fisiologi dari mamalia laut. Mamalia laut berbeda dengan ikan. Pada mamalia laut ekor horizontal bergerak ke atas dan ke bawah, memiliki blowholes (lubang napas) dengan mengambil oksigen dari udara, dan memiliki 4 sirip sedangkan ekor ikan vertikal bergerak ke kanan dan ke kiri, memiliki insang dengan mengambil oksigen dari dalam air serta memiliki lebih dari 4 sirip.
![]() |
| Jenis-jenis Mamalia Laut |
![]() |
| Morfologi Dugong dan Manatee |
Terdampar massal terjadi ketika dua atau lebih dari spesies tersebut dalam wilayah geografis yang sama dan dalam siklus pasang surut yang sama. Terdapat beberapa faktor yang berperan menjadi penyebab peristiwa terdampar, yaitu sifat sosial mamalia laut, ancaman predator, topografi, pergeseran pasang surut, sonar dan gangguan akustik lainnya, cuaca ekstrim, suhu permukaan laut dan pola arus laut.
1. Pasang surut diurnal, yaitu bila dalam sehari terjadi satu satu kali pasang dan satu kali surut
2. Pasang surut semidiurnal, yaitu bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
yang hampir sama tingginya
3.Pasang Surut Campuran, yaitu gabungan dari tipe 1 dan tipe 2, bila bulan melintasi khatulistiwa (deklinasi kecil) pasutnya bertipe semi diurnal dan jika deklinasi bulan mendekati maksimum maka terbentuk pasut diurnal
1. Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide), yaitu pasang surut yang hanya terjadi satu kali
pasang dan satu kali surut dalam satu hari
2. Pasang surut harian ganda (Semidiurnal Tide), yaitu pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama dalam satu hari
3. Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide, Prevailing Diurnal), yaitu
pasang surut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi terkadang
dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi dan waktu
4. Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide, Prevailing Semidiurnal), yaitu
pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi terkadang
terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu yang berbeda
Bangkai mamalia laut seperti Paus yang memiliki ukuran besar dapat dihancurkan dengan beberapa metode, seperti dibakar, dikubur atau ditenggelamkan. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan. Mamalia laut seperti D. Dugon biasanya cukup dikuburkan saja.
CORAL WATCH
“Selami untuk Selamatkan”
![]() |
| Foto Bersama Anggota UKM-KOFAKAHA |
![]() |
| Indikator coral |
Pada hari minggu, 5 Maret 2022 UKM-KOFAKAHA telah melaksanakan kegiatan coral watch di pantai Inong Balee yang terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Dimana untuk mencapai lokasi, kurang lebih menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam dari Banda Aceh. Saat di perjalanan melewati perkampungan dan juga perbukitan. Jalan menuju lokasi, masih tergolong terjal seperti bebatuan dan tanah liat. Kegiatan ini merupakan kegiatang rutin yang dilakukan setiap tahunnya yang dihadiri oleh Anggota Aktif dan Anggota Muda UKM-KOFAKAHA. Pemateri dari acara ini merupakan Anggota Luar Biasa (ALB) UKM-KOFAKAHA yaitu Abangnda Hifzil Rahmatillah, S.KH. yang merupakan anggota DIVA 19.
Coral watch sendiri merupakan kegiatan dimana kita mengambil data tentang kesehatan terumbu karang. Terumbu karang merupakan hewan invertebrate yang masuk kedalam class antozoa. Terumbu karang hidup bersimbiosis dengan alga zoocantela. Alga ini akan menghasilkan suatu zat yang akan menjadi makanan bagi terumbu karang. Waktu hidup dari terumbu karang sendiri tergantung lingkungan tempat dia tinggal. Untuk menjadi 1 koloni terumbu karang memerlukan waktu yang lama bahkan bisa mencapai puluhan tahun. Dalam pemeriksaan terumbu karang, dibutuhkan CHC (coral health chart), termometer, GPS dan alat tulis yang tahan air. Yang harus diperhatikan dalam pengecekan terumbu karang.
- Warna Terumbu Karang
- Tipe Terumbu Karang
Ada 4 tipe terumbu karang yang pertama plate (piring), boulder (batu), soft (lunak), dan braching (cabang). Untuk tipe plate dan soft biasanya ditemukan di perairan yang agak dalam sedangkan boulder dan braching di perairan dangkal.
- Metode Pemeriksaan Atau Pengambilan Sampel Terumbu Karang
Ada 3 metode yang biasa digunakan yang pertama reef walking ini dilakukan ketika air laut surut sehingga kita tidak perlu berenang, yang kedua snorkling metode ini cukup mudah dilakukan karena alat yang digunakan tidak terlalu banyak berupa snorkel, google glash, pelampung, kaki katak jika ada. Dan yang ketiga berupa diving, metode ini biasa dilakukan oleh profesional dan biasanya dilakukan di perairan dalam dan metode ini membuuthkan biaya yang cukup besar
Pada kegiatan ini kami menggunakan metode snorkling.
Saat akan melakukan snorkling yang harus diperhatikan adalah
- Kesehatan yang utama
- Snorkel, google glash, pelampung, kaki katak dan gps jika ada
- Cuaca dan kekeruhan air
Cara mengambil sampel
- Lihat cuaca dan kekeruhan air.
- Ukur suhu air dengan termometer
- Cari 1 koloni terumbu karang
- Cocokan warna yang paling gelap dengan CHC (coral health chart)
- Cocokan warna yang paling terang dengan CHC (coral health chart)
- Tulis di kertas tabel
- Sampel diambil minimal 20 koloni
Coral yang menjadi putih atau pelunturan warna itu dinamakan coral bleeching ini terjadi karena terumbu karang tersebut mengalami stress. Yang mengakibatkan stress, yaitu dapat dari factor lingkungan tempat tinggal contohnya seperti di pelabuhan, pemanasan global. Iklim, pencemaran dan lainnya. Semakin pekat warna terumbu karang maka semakin sehat terumbu karang tersebut sebaliknya semakin pucat terumbu karang maka tingkat stress nya juga semakin tinggi.
KELAS KONSERVASI DUGONG
“Lestarikan Dugong, Mamalia Laut yang Terlupakan”
Pada tanggal 2 April 2023, UKM-KOFAKAHA mengadakan kegiatan Kelas Konservasi dugong yang dimana ini merupakan pertama kalinya UKM-KOFAKAHA melakukan kegiatan ini. Kegiatan kali ini diisi oleh Bapak Juraij Bawazier, S.Si, M,Si yang merupakan seorang peneliti dugong dari Yayasan Lamun Indonesia (YLI). Kegiatan ini berbentuk internal yang dimana difokuskan untuk menambah wawasan anggota UKM-KOFAKAHA. Dugong sendiri merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia, dan merupakan satu-satunya satwa ordo Sirenia yang area tempat tinggalnya tidak terbatas pada perairan pesisir. Dugong juga termasuk ordo sirenia yang masih bisa bertahan setelah manatee. Menurut data yang dikeluarkan oleh IUCN dugong masuk dalam kategori terancam. Sedangkan CITES mengkategorikan dugong kedalam Appendix 1.
Sirenia memiliki kelenjar mamae yang mencirikan sebagai kelompok mamalia. Termasuk mamalia herbivora, dan dugong merupakan herbivora sejati.
Adapun perbedaan dugong dengan manatee adalah dugong hidup di air asin, memiliki kulit yang halus, sekornya seperti bercabang seperti ikan dan biasanya ukurannya lebih kecil. Sedangkan manatee biasanya hidup di sungai, kulitnya memiliki tekstur seperti bekas cakaran, ekornya membulat dan biasanya ukurannya lebih besar.
Dugong masih 1 keluarga dengan gajah karena memiliki moncong yang kebawah. Dugong dulunya memiliki kaki namun karena hidup didalam laut jadinya kakinya mengalami perubahan dan sirip depannya tidak sama seperti sirip melainkan seperti tangan. Pada ekor dugong hanya berisi syaraf dan tulang rawan. Adapun persebaran dugong meliputi indonesia, Australia dan India.
Dugong memiliki bobot sekitar 400kg dan dia merupakan herbivora sejati. Mampu menahan nafas selama 8 menit didalam air. Dugong akan mengambil nafas ke permukaan selama 1-2 detik dan kembali lagi ke dalam air. Hewan ini bernafas menggunakan paru-paru dan tidak memiliki insang.
Adapun morfologi dari dugong sendiri adalah:
- Warnanya coklat keabuan
- Katup mulut akan tertutup saat didalam air
- Telinga tidak bercuping
- Tangan dugong memiliki 5 jari
2 sirip ditangan memiliki selaput untuk mengatur arah renang sedangkan sirip belakang untuk mengatur gerakan renang. Dugong memiliki puting, susunya akan keluar seperti pasta yang terletak di bawah ketiak atau celah sirip depan biasanya anak dugong akan menyusu menempel pada celah sirip tersebut. Dugong hidup dipadang lamun dekat terumbu karang.
Aktivitas harian dugong 41% makan, 32% traveling, 1% istirahat. 6% sosialisasi, 1% Rolling dan 18% naik kepermukaan. Dugong merupakan hewan yang suka bepetualang dan biasanya akan kembali ketempat asalnya. Hanya saja petualngan dugong hanya mencakup wilayah lokal.
Biasanya yang mempengaruhi dugong untuk melakukan perjalan ini adalah faktor makanan atau keamanan dari wilayah yang ditempati. Dugong tidak suka berenang didaerah pasang surut dia lebih suka beraktivitas disekitar terumbu karang. Dugong akan beristirahat dipermukaan kolam dan dasar perairan dan terkadang bisa tertidur juga.
Kebiasaan dugong ketika mencari makan adalah akan memakan lamun yang bagian atasnya saja dan biasanya padang lamun yang sudah dimakan oleh dugong akan meninggalkan jejak yang disebut feeding reel. Dugong juga bisa dijadikan sebagai bio indikator untuk kesehatan padang lamun, karena dugong hanya akan memakan lamun yang kondisinya baik saja. Untuk menjaga homeostasis tubuhnya dugong akan menjaga tubuhnya agar tetap dalam keadaan basah.
Salah satu petunjuk untuk membedakan jenis kelaminnya adalah posisi celah kelaminnya terhadap anus dan pusar sedangkan betina, celah kelaminnya terletak lebih dekat ke anus. Dugong akan siap bereproduksi ketika berusia 9-10 tahun dengan usia kandungan selama 12 – 14 bulan dan pada umumnya hanya melahirkan seekor anak dalam satu kali proses reproduksi. Seekor duyung umumnya memiliki jarak kehamilan selama 2,5 – 7 tahun. Guna menghindari pemangsa dugong akan melahirkan anaknya diperairan dangkal dengan kedalaman 2-2,5 meter. Induk dugong akan menyusi anaknya selama 14-18 bulan dan disapih pada umur 7 tahun. Betina umur 9 tahun sudah bisa dikawini dan jantan berusia 10 tahun.
Perilaku kawin dugong dimana dia akan kawin ketika menemuka pasangan yang pas saja. Sebelum kawin jantan akan mendorong muncungnya keperut sibetina lalu dugong akan kejar - kejaran dan berputar putar. Setelah kawin dugong jantan akan pergi dan tidak kembali.
Ancaman yang membahayakan hidup dugong antara lain terdampar, perburuan, terjerat jaring dan terkena kapal. Penyakit juga termasuk salah satu ancaman dugong. Penyakit yang biasa di derita oleh dugong adalah parasit cacing pipih dan opisthrotema.
Untuk itu mari kita bersama-sama untuk terus menjaga dan ikut serta dalam pelestarian satwa tersebut. Agar keseimbangan ekosistem tetap terus terjaga untuk bumi yang lebih baik
"Satu Mangrove untuk Seribu Kehidupan"
Pada tanggal 14 Mei 2023 UKM-KOFAKAHA kembali melakukan aksi menanam mangrove yang dilakukan di Kawasan Mangrove Lamnga. Pada kegiatan “Belajar Menanam Mangrove” ini, diketuai langsung oleh Bunga Isra Laila yang merupakan Anggota Aktif UKM-KOFAKAHA dari DIVA 20. Kegiatan ini dibimbing oleh Bapak Muhammad selaku penggiat mangrove di kawasan tersebut. Pada kesempatan kali ini UKM-KOFAKAHA menanam sekitar kurang lebih 200 bibit mangrove. Mangrove sendiri merupakan hutan atau sekelompok tumbuhan yang hidup didaerah dipasang surut yang tumbuh ditepi pantai. Mangrove memiliki 100 jenis dan 61 terdapat di indonesia (Aceh) dan 39 sisanya terdapat di Amerika Latin.
Beberapa jenis mangrove di daerah pasang surut :
- Mucronata (dalam bahasa Aceh : Bangka'u) ---> ukurannya sekitar 60-70 cm.
- Stylosa ---> ukurannya lebih pendek, atau setengahnya dari jenis Mucronata.
- Apiculata
- Seriotagal
- Avicennia
![]() |
| Bibit Mangrove |
![]() |
| Cara Penanaman Mangrove |
![]() |
| Foto Anggota UKM-KOFAKAHA bersama Pemateri "Bapak Muhammad" |
“Jika bukan kita yang menjaga dan mau mencoba, siapa lagi. Banyak yang dapat kita manfaatkan dari Hutan Mangrove ini. Tidak hanya untuk kelestarian ekosistem, namun juga peningkatan ekonomi untuk masyarakat sekitar”- Bapak Muhammad.
Referensi
:
Allo, R. P. A., Sudhartono, A. dan Labiro,
E. (2018). Karakteristik komponen abiotik anoa (Bubalus sp.) habitat
dalam hutan pendidikan Tadulako Universitas kecamatan Bolano Lambunu kabupaten
Parigi Moutong. Jurnal Warta Rimba, 6(1): 1-10.
Burton, J. A., Mustari, A. dan Macdonald,
A. (2007). Status dan rekomendasi anoa (Bubalus sp.) in situ dengan
implikasi untuk konservasi populasi berbaik. Media Konservasi, 12(2):
96-98.
Burton, j., Wheeler, P., dan Mustari, A.
(2016). Bubalus Depresicornis, lowland anoa. IUCN Red List of Threatened
Species.
Irfan, M., Kasim, K., Rahayu, R., Maksum,
H., Jauhar, A. dan Amam. (2022). Upaya konservasi dan regulasi kebijakan untuk
mengatasi kepunahan anoa di Sulawesi. Bul. Plasma Nutfah, 28(2):
163-172.
Wardah, Labiro, E., Massiri, S. D.,
Sustri. dan Mursidin. (2012). Vegetasi kunci habitat anoa di cagar alam Pangi
Binangga, Sulawesi Tengah. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 1(1):
1-12.
































